Penjualan mobil listrik di tingkat global terus memperlihatkan grafik kenaikan yang signifikan di tengah transformasi industri otomotif internasional.
Dilansir dari Money, International Energy Agency (IEA) memproyeksikan bahwa hampir 30 persen dari total mobil yang dipasarkan di dunia pada 2026 merupakan kendaraan listrik.
Estimasi tersebut dipublikasikan dalam laporan Global EV Outlook 2026, yang menyebutkan bahwa ekspansi ini disokong oleh regulasi pemerintah, penurunan harga baterai, serta pergeseran minat konsumen akibat fluktuasi harga energi.
Berdasarkan data IEA, volume penjualan mobil listrik global telah menembus angka 17 juta unit pada 2024, yang merepresentasikan lebih dari 20 persen total pasar otomotif dunia.
Lonjakan sebesar 3.5 juta unit sepanjang tahun 2024 bahkan tercatat melampaui akumulasi penjualan kendaraan listrik global pada tahun 2020.
Sektor otomotif China tetap menjadi penggerak utama dalam industri ini dengan membukukan penjualan lebih dari 11 juta unit mobil listrik sepanjang 2024.
"China mempertahankan keunggulannya," tulis IEA dalam laporan tersebut, dikutip pada Kamis (21/5/2026).Di pasar domestik China, kendaraan listrik sekarang mendominasi hampir separuh dari total transaksi mobil baru, sehingga satu dari 10 mobil yang melintas di jalanan setempat sudah bertenaga listrik.
Pada sisi lain, kawasan Eropa sempat mengalami perlambatan serapan pasar pada 2024 seiring pengurangan insentif finansial dan kebijakan proteksi, namun pangsa pasarnya bertahan di angka 20 persen.
Sementara itu, pasar Amerika Serikat mencatatkan pertumbuhan tahunan sebesar 10 persen pada 2024, membuat proporsi kendaraan listrik kini menyentuh satu dari 10 mobil baru.
Lembaga energi tersebut menggarisbawahi bahwa wilayah berkembang mulai mengambil peran sebagai motor pertumbuhan baru bagi industri kendaraan listrik global.
Penjualan mobil listrik di kawasan Asia dan Amerika Latin meroket lebih dari 60 persen pada 2024 hingga mendekati angka 600.000 unit, yang setara dengan volume pasar Eropa lima tahun lalu.
Untuk wilayah Asia Tenggara, ekspansi pasar tercatat mendekati angka 50 persen dengan kontribusi mencapai 9 persen dari total penjualan mobil di regional tersebut.
Thailand bersama Vietnam menjadi dua yurisdiksi dengan tingkat adopsi kendaraan listrik paling agresif di kawasan Asia Tenggara.
Di Amerika Selatan, Brasil mencatatkan pertumbuhan penjualan lebih dari dua kali lipat menjadi 125.000 unit pada 2024, sehingga pangsa pasarnya melampaui 6 persen.
Faktor stimulan di negara berkembang dipengaruhi oleh asistensi kebijakan pemerintah serta penetrasi mobil listrik impor berbiaya kompetitif asal China.
Pada pasar Brasil dan Thailand, produk otomotif asal China mendominasi sekitar 85 persen dari total distribusi kendaraan listrik setempat.
Secara agregat, pasokan impor dari pabrikan China menyumbang 75 persen dari pertumbuhan penjualan mobil listrik di negara berkembang luar China sepanjang 2024.
"Pasar ekspor kendaraan listrik China semakin beragam," ungkap IEA.Para produsen otomotif asal Negeri Tirai Bambu tersebut kini aktif memperluas peta ekspor mereka menuju Brasil, Meksiko, hingga ke Asia Tenggara.
Proyeksi Pasar Global 2025 Menembus 20 Juta Unit
IEA mengestimasi volume transaksi mobil listrik global pada tahun 2025 akan melewati ambang 20 juta unit, atau menguasai lebih dari seperempat pasar mobil dunia.
Pada triwulan pertama 2025, pergerakan pasar sudah memperlihatkan pertumbuhan sebesar 35 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
China diprediksi tetap memimpin, di mana stimulus pembaruan kendaraan dan reduksi harga diperkirakan mendorong penetrasi mobil listrik hingga 60 persen dari total penjualan domestik 2025.
Di benua Eropa, pemberlakuan standar emisi yang ketat oleh Uni Eropa dan Inggris diproyeksikan mendongkrak pangsa pasar mobil listrik hingga menyentuh 25 persen pada 2025.
Sebaliknya, peta jalan industri di Amerika Serikat dinilai penuh ketidakpastian akibat dinamika politik, meski IEA tetap memproyeksikan pertumbuhan penjualan sebesar 10 persen pada 2025.
Kelompok negara berkembang di luar China diprediksi mempertahankan tren positif dengan proyeksi kenaikan sebesar 50 persen hingga mencapai volume 1 juta unit pada 2025.
Dalam jangka panjang, IEA memetakan bahwa pangsa pasar kendaraan listrik global akan melampaui angka 40 persen dari total penjualan mobil dunia pada tahun 2030.
China diproyeksikan mendominasi peta kompetisi dengan kepemilikan pangsa pasar mencapai kisaran 80 persen pada penghujung dekade ini.
Kawasan Eropa diperkirakan mampu mengamankan pangsa pasar mendekati 60 persen, sedangkan untuk Asia Tenggara diprediksi satu dari empat mobil yang terjual pada 2030 adalah kendaraan listrik.
Dampak Penurunan Harga Baterai Terhadap Keterjangkauan
Kompetisi manufaktur yang ketat dan penurunan harga komponen baterai dinilai menjadi faktor utama yang meningkatkan aksesibilitas harga bagi konsumen.
Secara global, harga jual mobil listrik berbasis baterai mengalami penurunan sepanjang tahun 2024, walau jurang harga dengan mobil konvensional masih terlihat di beberapa wilayah.
Konsumen di Jerman masih harus membayar sekitar 20 persen lebih mahal untuk mobil listrik, sementara di Amerika Serikat selisih harganya mencapai 30 persen dibandingkan mobil berbahan bakar minyak.
Dinamika berbeda terjadi di China, di mana dua pertiga dari mobil listrik yang terjual pada 2024 memiliki label harga yang lebih murah daripada kendaraan konvensional.
Kondisi pasar di Thailand juga telah mencapai titik paritas harga, di mana rata-rata harga mobil listrik kini sudah setara dengan kendaraan bermesin konvensional.
Untuk pasar Brasil, selisih harga menyusut signifikan menjadi sekitar 25 persen pada 2024, dari yang sebelumnya sempat bertengger di atas 100 persen pada 2023.
Koreksi harga juga terpantau di Meksiko dengan penyusutan margin harga menjadi sekitar 50 persen pada 2024 dari posisi di atas 100 persen pada tahun sebelumnya.
Penurunan harga paket baterai secara global dipicu oleh penurunan harga komoditas mineral kritis serta persaingan antarprodusen sel baterai.
Sepanjang tahun 2024, harga paket baterai di China merosot sekitar 30 persen, sementara di kawasan Eropa dan Amerika Serikat penurunan berkisar antara 10 persen hingga 15 persen.
Urgensi Pembangunan Infrastruktur Pengisian Daya
Akselerasi populasi kendaraan listrik wajib diimbangi oleh ketersediaan fasilitas pengisian daya yang memadai di ruang publik.
IEA mencatat bahwa kuantitas stasiun pengisian daya umum di tingkat global telah meningkat dua kali lipat dalam kurun waktu dua tahun terakhir.
Yurisdiksi China dan Uni Eropa dinilai sukses menyelaraskan pembangunan infrastruktur pengisian daya dengan pertumbuhan populasi kendaraan listrik mereka.
Sebaliknya, penyediaan fasilitas pengisian daya umum di Amerika Serikat dan Inggris dinilai belum mampu mengimbangi laju pertumbuhan mobil listrik di jalan raya.Di sisi lain, jumlah infrastruktur pengisian daya ultra cepat berkapasitas 150 kilowatt atau lebih mengalami ekspansi sebesar 50 persen sepanjang 2024.
Saat ini, fasilitas pengisian ultra cepat tersebut telah menyumbang sekitar 10 persen dari total ekosistem pengisian cepat publik di seluruh dunia.
Kawasan Eropa mencatatkan performa impresif di mana lebih dari tiga perempat jalur tol telah dilengkapi stasiun pengisian cepat dengan interval maksimal setiap 50 kilometer.
Rasio ketersediaan di Eropa tersebut jauh mengungguli Amerika Serikat yang jangkauannya masih berada di bawah separuh dari total jaringan tol domestik mereka.
Menurut kalkulasi IEA, kapasitas pengisian daya publik global perlu ditingkatkan hingga hampir sembilan kali lipat menjelang tahun 2030 guna mendukung target adopsi saat ini.
Kendati demikian, konsumsi daya dari sektor kendaraan listrik diperkirakan hanya menyerap sekitar 2.5 persen dari total permintaan listrik global pada tahun 2030.
"Inovasi teknologi baterai dalam beberapa tahun terakhir juga memungkinkan pengisian daya tinggi yang aman dan secepat pengisian bahan bakar mobil konvensional," jelas IEA.Ekspansi Truk Listrik dan Efek Substitusi Minyak Bumi
Selain segmen kendaraan penumpang, kendaraan listrik untuk kebutuhan logistik dan niaga juga memperlihatkan tren pertumbuhan yang positif.
Data dari IEA menunjukkan bahwa volume penjualan truk listrik global melonjak hampir 80 persen pada tahun 2024, memposisikan pangsa pasarnya mendekati angka 2 persen dari total penjualan truk dunia.
China kembali memimpin segmen ini dengan membukukan penjualan sekitar 75.000 unit truk listrik sepanjang periode tahun 2024.
Pilihan model truk listrik yang tersedia di pasar global juga meningkat pesat, dari yang sebelumnya kurang dari 70 model pada 2020 menjadi lebih dari 400 varian saat ini.
Meski harga beli unit truk listrik masih dua hingga tiga kali lipat lebih tinggi dari varian diesel, efisiensi biaya operasional membuatnya semakin kompetitif.
IEA memproyeksikan biaya kepemilikan truk listrik untuk rute jarak jauh di Eropa dan Amerika Serikat akan mencapai titik impas dengan truk diesel pada 2030, sementara di China fenomena ini sudah mulai terjadi.Secara makroekonomi, penetrasi kendaraan listrik di berbagai sektor transportasi diproyeksikan mampu menekan konsumsi minyak bumi global hingga lebih dari 5 juta barel per hari pada 2030.
Sekitar setengah dari total penghematan konsumsi minyak bumi dunia tersebut dikontribusikan oleh masifnya adopsi kendaraan listrik di wilayah China.
Namun, IEA memberikan catatan peringatan mengenai faktor ketidakpastian ekonomi global, arah kebijakan perdagangan, serta potensi penerapan tarif baru yang dapat menahan laju pasar.
Penurunan harga minyak mentah global juga berpotensi menggerus daya tarik efisiensi biaya bahan bakar yang selama ini menjadi nilai jual utama kendaraan listrik.
Meskipun demikian, kendaraan listrik dinilai tetap menawarkan margin penghematan operasional yang kompetitif atas mobil konvensional, bahkan saat harga minyak dunia berada pada level 40 dollar AS per barel atau sekitar Rp 706.400 per barel dengan asumsi kurs Rp 17.660 per dollar AS.