Pemerintah India memperketat regulasi di kawasan konservasi satwa liar dengan ancaman denda bagi turis yang nekat mengambil foto harimau menggunakan ponsel saat safari. Peraturan ketat ini diambil demi menjaga kelestarian satwa dan keselamatan pengunjung.
Seperti dikutip dari Detik Travel, Mahkamah Agung India telah mengeluarkan larangan penggunaan telepon genggam di seluruh wilayah konservasi harimau sejak November 2025. Kebijakan baru tersebut dijadwalkan mulai berlaku secara efektif pada Oktober 2026.
Langkah ini diambil setelah meningkatnya tindakan pelancong yang dinilai mengganggu ketenangan hewan dan membahayakan keselamatan umum. Banyak pengunjung dianggap bertindak berlebihan ketika mendokumentasikan visual demi konten media sosial.
Direktur Pelaksana TransIndus, Amrit Singh mengonfirmasi bahwa pengelola taman nasional merasa resah dengan fenomena tersebut. Pengunjung sering kali mengabaikan keselamatan diri sendiri, pemandu, dan petugas demi mengejar dokumentasi.
"Pihak pengelola taman nasional khawatir karena semakin banyak pengunjung yang mengganggu satwa liar demi foto atau konten media sosial. Perilaku tersebut juga dapat membahayakan diri mereka sendiri, pemandu safari, dan petugas konservasi," jelas Singh.
Sejumlah peristiwa fatal menjadi dasar penguatan regulasi ini. Pada Februari lalu, seekor harimau di Taman Nasional Ranthambhore dilaporkan mengalami stres dan ketakutan karena dikepung oleh kendaraan wisatawan yang gaduh. Satwa tersebut bahkan terhambat saat mencoba kembali ke area hutan.
Kejadian lain mencatat adanya wisatawan yang nekat turun dari kendaraan safari hanya untuk mengambil ponselnya yang terjatuh. Selain itu, seorang anak sempat terlempar dari jip akibat terlalu bersemangat memotret harimau hingga memaksa pemandu safari turun tangan melakukan penyelamatan.
Pengoperasian ponsel oleh wisatawan juga kerap menimbulkan kemacetan di jalur safari akibat kendaraan yang berhenti searah. Pada safari malam, penggunaan lampu kilat kamera dinilai sangat mengganggu kenyamanan satwa. Otoritas setempat juga mengkhawatirkan potensi penyalahgunaan info lokasi real-time oleh pemburu liar.
Melalui aturan ini, operator tur diberikan tenggat waktu enam bulan untuk menyiapkan fasilitas loker penyimpanan ponsel. Pengunjung yang melanggar akan dikenakan sanksi denda, sementara taman nasional yang lalai menerapkan aturan terancam pencabutan izin operasi safari.
Meski demikian, aktivitas fotografi menggunakan kamera digital dan perangkat video profesional masih diizinkan. Syaratnya, pengoperasian alat-alat tersebut wajib dilakukan secara bertanggung jawab oleh para pelancong.
Kawasan cagar alam di India sendiri sedang mengalami pertumbuhan positif. Keberhasilan program pelestarian lingkungan membuat populasi harimau di negara tersebut melonjak hingga dua kali lipat dalam beberapa tahun terakhir.
Selain pembatasan gawai, Pemerintah India berkomitmen membatasi pembangunan infrastruktur di sekitar cagar alam. Langkah strategis ini bertujuan menekan kepadatan pariwisata sekaligus memastikan habitat harimau tetap aman dan terjaga.