Prosesi lempar jumrah menjadi salah satu bagian paling ikonik sekaligus krusial bagi jutaan jemaah yang sedang menunaikan ibadah haji di Mina. Dilansir dari Cahaya, ritual ini bukan sekadar aktivitas fisik melempar batu, melainkan memiliki aturan rinci terkait jumlah kerikil dan waktu pelaksanaan.
Ibadah ini dilakukan di tiga titik utama, yaitu Jumrah Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah Aqabah, yang melambangkan perlawanan terhadap godaan setan. Sejarahnya merujuk pada keteguhan Nabi Ibrahim AS saat menolak bisikan setan dengan lemparan batu ketika hendak menyembelih putranya, Nabi Ismail AS.
Lokasi pelaksanaan berada di kawasan Mina pada tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah. Imam Al-Ghazali dalam buku Rahasia Haji dan Umrah menyebutkan bahwa lempar jumrah merupakan simbol membuang sifat buruk dan hawa nafsu dari dalam diri manusia.
Banyaknya batu kecil yang dikumpulkan jemaah sangat bergantung pada pilihan nafar atau durasi tinggal di Mina. Pada 10 Dzulhijjah atau hari raya Idul Adha, jemaah hanya perlu melempar tujuh butir kerikil ke arah Jumrah Aqabah saja.
Selanjutnya pada hari tasyrik yang jatuh tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, jemaah melempar ketiga jumrah sekaligus secara berurutan. Setiap titik dilempar tujuh kali, sehingga total kebutuhan kerikil mencapai 21 butir untuk setiap harinya.
Perbedaan Nafar Awal dan Nafar Tsani
Bagi jemaah yang memilih nafar awal atau meninggalkan Mina lebih cepat pada 12 Dzulhijjah sebelum matahari terbenam, total kerikil yang dibutuhkan adalah 49 butir. Jumlah ini berasal dari 7 kerikil pada hari pertama dan masing-masing 21 kerikil pada dua hari berikutnya.
Sementara itu, bagi jemaah yang mengambil nafar tsani atau bermalam hingga 13 Dzulhijjah, total kebutuhan batu menjadi 70 butir kerikil. Tambahan 21 butir diperlukan untuk melengkapi ritual pada hari terakhir di Mina tersebut.
Ukuran batu yang digunakan idealnya seukuran biji kacang atau ujung jari, bukan batu besar. Kerikil biasanya dikumpulkan di Muzdalifah, meski para ulama juga memperbolehkan pengambilan batu dari wilayah suci di sekitar Mina.
Pemerintah Arab Saudi terus memperbarui infrastruktur Jamarat demi memastikan keselamatan jutaan manusia yang berkumpul secara bersamaan. Islam sangat menekankan perlindungan jiwa, sehingga jemaah diminta tetap sabar dan disiplin mengikuti arahan petugas di lapangan.