Kawasan Kali Besar di Kota Tua Jakarta menyuguhkan rekam jejak perencanaan tata kota peninggalan era kolonial Belanda melalui penerapan konsep Ideal City. Wilayah yang dahulu dikenal sebagai De Groote Rivier ini telah direvitalisasi menjadi zona pejalan kaki dengan deretan arsitektur bergaya Eropa, Selasa (7/4/2026).
Perencanaan matang kawasan ini terungkap dalam rute tur "Oud Batavia en Omstreken: Then & Now" yang diselenggarakan oleh UPK Old Town. Dilansir dari Detik Travel, konsep kota tersebut merujuk pada tata kota Amsterdam yang dirancang untuk aspek pertahanan dan efisiensi transportasi air.
Pemandu Free Guided Tour UPK Old Town, Gilang Ramadhan menjelaskan tiga kriteria utama dalam membangun kota yang sempurna pada masa itu. Hal tersebut mencakup keberadaan benteng pelindung, tata letak perumahan yang simetris, serta ketersediaan kanal navigasi.
"Pertama, kota harus dikelilingi oleh benteng. Kedua, perumahan harus berbentuk persegi, jadi antar blok bentuknya simetris. Dan ketiga, harus ada kanal yang mengelilingi area kota untuk transportasi air," kata Gilang, Pemandu Free Guided Tour UPK Old Town.
Kanal-kanal tersebut berfungsi strategis sebagai jalur lalu lintas kapal dagang dari muara Pelabuhan Sunda Kelapa menuju pusat kota. Posisi ini menjadikan Kali Besar sebagai Central Business District (CBD) atau pusat perniagaan utama pada masa keemasan Batavia.
Pertumbuhan ekonomi di sepanjang tepi sungai tersebut diikuti oleh aturan pembangunan gedung yang sangat ketat untuk menjaga estetika dan fungsi kawasan. Pemerintah kolonial menetapkan regulasi khusus bagi bangunan komersial agar selalu menghadap ke arah aliran air.
"Di sepanjang Kali Besar dibangun gedung-gedung yang mengadopsi konsep Waterfront City. Artinya, bangunan yang ada di sekitar kali wajib menghadap ke depan atau ke arah sungai, tidak boleh membelakanginya," ujar Gilang, Pemandu Free Guided Tour UPK Old Town.
Kawasan ini menyimpan sejumlah aset bersejarah seperti Toko Merah yang dahulu merupakan mansion milik pejabat VOC, Van Imhoff. Selain itu, terdapat Gedung eks Standard Chartered yang dibangun pada 1912 serta Gedung Jasa Raharja yang dulunya merupakan kantor asuransi laut.
Unsur arsitektur lokal juga hadir melalui gedung perbankan era 1950-an karya arsitek legendaris Indonesia, Frederich Silaban, yang memiliki ciri khas desain serupa dengan Masjid Istiqlal. Fasilitas lain yang masih berdiri kokoh di antaranya adalah Gedung KPP Tambora dan Gedung Bahtera Adiguna.