Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang melanda Labuan Bajo, Manggarai Barat, dalam beberapa hari terakhir berdampak signifikan pada operasional kapal wisata jenis kayu dan speedboat hingga menyebabkan pembatalan sejumlah perjalanan wisatawan pada Kamis (7/5).
Krisis energi ini tidak hanya melumpuhkan transportasi darat, tetapi juga mulai mengganggu sektor pariwisata bahari yang menjadi urat nadi kawasan tersebut. Dilansir dari Regional, para pelaku usaha kapal wisata kini kesulitan menjalankan jadwal rutin mereka akibat stok bahan bakar yang tidak menentu.
Ketua Asosiasi Kapal Wisata (Askawi) Manggarai Barat, Ahyar Abadi mengungkapkan bahwa kendala distribusi BBM telah memaksa sejumlah pemilik kapal untuk membatalkan trip menuju kawasan Taman Nasional Komodo. Situasi ini berdampak langsung pada pelayanan tamu yang sudah memesan jauh hari.
"Stoknya yang susah karena ada beberapa teman yang terpaksa refund trip karena tidak dapat BBM. Dua hari lalu ada," beber Ahyar, Ketua Asosiasi Kapal Wisata (Askawi) Manggarai Barat.
Meski distribusi energi sedang mengalami tantangan besar dan pengawasan terhadap penimbunan BBM terus diperketat, agenda pariwisata berskala internasional masih tetap terlaksana. Event Lintang Flores 2026 dilaporkan resmi berakhir tepat pada batas cut-off time, Kamis (7/5).
Ajang balap sepeda ultra tersebut diikuti oleh 20 peserta dari berbagai negara yang menempuh rute Labuan Bajo–Maumere–Labuan Bajo sejauh 1.034 kilometer. Para pesepeda berhasil menaklukkan tantangan elevasi setinggi 19.000 meter sebelum mencapai garis finis di Ta'aktana Luxury Collection Resort & Spa.
Penggagas Lintang Flores, Renaldus Iwan Sumarta menilai dominasi atlet lokal pada podium tahun ini menjadi indikator positif bagi perkembangan komunitas sepeda jarak jauh di Indonesia.
"Tahun ini istimewa, karena podium pertama hingga ketiga diraih pesepeda Indonesia. Kemenangan mereka membuktikan bahwa ajang ini terbuka bagi siapa saja yang berani menguji batas diri," jelas Renaldus Iwan Sumarta, Penggagas Lintang Flores.
Iwan menambahkan bahwa daya tarik utama wisata olahraga di Flores justru terletak pada kondisi geografisnya yang ekstrem. Medan yang berat dianggap sebagai nilai jual bagi para wisatawan minat khusus yang mencari tantangan fisik.
"Alam Labuan Bajo dengan rute menanjak, cuaca ekstrem, dan medan menantang adalah keindahan sekaligus ujian, tempat tekad dan keteguhan lebih berarti daripada apa pun," ujar Renaldus Iwan Sumarta, Penggagas Lintang Flores.
Keberhasilan penyelenggaraan ajang internasional ini menjadi bukti bahwa aktivitas pariwisata di Labuan Bajo tetap bergulir. Kendati demikian, persoalan infrastruktur dan distribusi energi tetap menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah guna menjaga keberlangsungan industri wisata di masa depan.