Tren mengecat velg motor menggunakan teknik powder coating kini semakin diminati oleh para pencinta modifikasi kendaraan. Metode ini menawarkan hasil yang berbeda dibandingkan dengan pengecatan konvensional yang menggunakan cat cair.
Dilansir dari Detik Oto, pemilik bengkel BAMS Powder Coat di Depok, Fiqo Natapraja, menjelaskan bahwa pemilik motor perlu memahami keunggulan dan batasan metode ini. Hal tersebut penting dilakukan agar hasil akhir modifikasi sesuai dengan harapan pemilik kendaraan.
Daya tahan yang luar biasa menjadi alasan utama mengapa teknik ini sangat direkomendasikan untuk komponen kaki-kaki motor. Pengecatan serbuk ini memberikan perlindungan yang lebih tangguh terhadap berbagai kondisi eksternal yang ekstrem.
"Pertama dia tahan panas, lalu tingkat pelunturannya itu sangat kecil, dan dia anti korosi," ujar Fiqo.
Lapisan yang dihasilkan melalui proses ini cenderung lebih tebal sehingga lebih kuat dalam menghadapi benturan fisik. Ketahanan ini dinilai sangat cocok untuk penggunaan otomotif yang masuk dalam kategori beban kerja medium hingga berat.
"Dia lebih kuat dari benturan, kecuali benturan tajam ya. Jadi untuk keperluan otomotif yang sifatnya medium sampai berat, memang lebih dianjurkan powder coating," tambah Fiqo.
Selain faktor kekuatan, aspek lingkungan juga menjadi nilai tambah tersendiri bagi metode ini. Berbeda dengan cat semprot cair, proses powder coating relatif lebih ramah lingkungan karena tidak menghasilkan aroma kimia yang menyengat selama pengerjaan.
Keterbatasan Warna dan Material
Meskipun memiliki keunggulan dari sisi ketahanan, teknik ini masih memiliki batasan dalam hal estetika warna. Saat ini pilihan varian warna yang tersedia dari produsen cat serbuk belum sebanyak pilihan pada cat basik cairan atau cat semprot.
"Mungkin ini masalah waktu saja karena belum banyak yang tahu. Akhirnya produsen juga mengadakan varian cat masih kurang banyak," kata Fiqo.
Untuk mendapatkan warna-warna tertentu yang bersifat unik, seperti efek candy, para penyedia jasa sering kali harus mendatangkan bahan baku dari luar negeri. Namun, untuk pilihan warna yang bersifat solid, ketersediaan produk dalam negeri sudah mencukupi kebutuhan konsumen.
"Misalkan warna candy yang unik, mau tidak mau kita impor langsung. Tapi kalau yang solid, kita pakai produk dalam negeri."
Batasan teknis lainnya terletak pada jenis material yang bisa diproses. Teknik ini hanya bisa diaplikasikan pada benda yang berbahan dasar logam karena adanya prosedur pengeringan menggunakan oven bersuhu tinggi.
Komponen yang terbuat dari bahan non-logam dipastikan tidak akan mampu menahan panas selama proses pengovenan. Material seperti plastik, karet, hingga nilon akan mengalami kerusakan permanen jika dipaksakan masuk ke dalam oven.
"Kecuali dia berbahan plastik atau karet itu tidak bisa, nilon pun tidak bisa. Karena kalau masuk oven, bahannya akan lumer," tutur Fiqo.