Destinasi wisata Kampung Kayutangan Heritage di Kota Malang tengah menjadi sorotan setelah munculnya berbagai keluhan dari para pelancong. Wisatawan menyayangkan sikap sejumlah oknum warga yang dinilai memberikan pelayanan kurang ramah dan cenderung ketus.
Persoalan ini mencuat ke publik dan menjadi viral setelah akun TikTok @dintdan membagikan pengalamannya melalui unggahan bertajuk "Piye Tanggapanmu soal Tiket Masuk Kampung Kayutangan?". Dilansir dari Detik Travel, konten tersebut telah mendapatkan atensi besar dengan ditonton lebih dari 260 ribu kali.
Pemilik akun bernama Dinta menceritakan pengalaman tidak menyenangkan saat berkunjung ke lokasi tersebut. Ia menyoroti tindakan warga setempat yang kerap meneriaki pengunjung dengan nada tinggi hanya untuk menanyakan tiket masuk tanpa memberikan penjelasan yang baik.
"Tiketnya mana?" bunyi teriakan yang sering didengar wisatawan menurut penuturan Dinta. Tidak hanya itu, ia juga mengaku mendengar ucapan bernada sinis apabila ada pengunjung yang tampak kebingungan mengenai kewajiban membayar retribusi masuk.
"Wisata yo mbayar (bayar)," tutur Dinta menirukan ucapan yang dilontarkan oknum warga kepada para wisatawan di sana. Unggahan ini kemudian memicu gelombang komentar dari netizen yang ternyata pernah merasakan pengalaman serupa saat berkunjung ke Kayutangan Heritage.
Salah satu netizen dengan akun @ochiii menceritakan kejadian tidak menyenangkan saat hendak menggunakan fasilitas toilet yang loketnya berdekatan dengan pintu masuk. Ia mengaku diteriaki secara kasar karena dianggap masuk tanpa membayar, padahal tujuannya hanya ke toilet.
"WONG ENDI SE IKI GAK ERO LEK MELBU KENE BAYAR," tulis @ochiii menirukan teriakan warga yang dialaminya. Kejadian serupa bahkan menimpa warga lokal (warlok) seperti akun @cantikaa yang tetap ditanyai tiket meski rumahnya berada di dalam kawasan kampung tersebut.
Ketidaknyamanan wisatawan diperparah oleh sistem ticketing yang dinilai belum tertata secara profesional. Banyaknya pintu masuk yang tidak berpusat pada satu titik membuat alur masuk pengunjung menjadi tidak jelas dan membingungkan.
Dinta yang merupakan warga asal Kediri mengonfirmasi bahwa kunjungannya tersebut adalah kali kedua ia datang bersama rekannya yang asli Malang. Menurutnya, suasana di dalam kampung sebenarnya sangat dinikmati, namun sistem administrasinya sangat mengganggu kenyamanan.
"Pas masuk ke Kayutangannya saya menikmati, yang bikin gak nyaman menurut saya cuma tiket masuknya. Kalau emang mau ada pembayaran tiket seharusnya lebih dipertegas lagi tempat loketnya," ujar Dinta, Senin (4/5/2026).
Dinta memberikan saran agar petugas pengelola selalu bersiap di loket resmi guna menjaga alur masuk wisatawan tetap tertib dan jelas. Hal ini untuk menghindari adanya pengunjung yang bisa masuk secara bebas tanpa membayar sehingga tidak menimbulkan kecemburuan sosial.
"Mereka juga harus stay di loket karena ada beberapa orang yang gak bayar tiket," kata Dinta. Kurangnya keramahan dalam penyampaian aturan kepada pengunjung dikhawatirkan akan menurunkan minat wisatawan untuk kembali berkunjung ke salah satu ikon sejarah di Kota Malang tersebut.