Imbas Konflik Timur Tengah Kementerian Pariwisata Bidik Turis ASEAN

Imbas Konflik Timur Tengah Kementerian Pariwisata Bidik Turis ASEAN

Sektor perjalanan dan pariwisata global mulai merasakan dampak nyata dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Menanggapi situasi tersebut, pemerintah Indonesia mengalihkan fokus strategi dengan memperkuat pasar wisata di tingkat regional.

Langkah ini diambil dengan membidik kunjungan wisatawan mancanegara dari kawasan Asia Tenggara serta Oseania. Kebijakan ini diharapkan dapat menjaga stabilitas sektor pariwisata nasional, seperti dilansir dari Detik Travel.

"Dinamika geopolitik di Timur Tengah ini tidak dipungkiri dapat berdampak pada jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang dan juga devisa," kata Widiyanti.

"Sehingga kami di Kementerian Pariwisata harus melakukan prepositioning dan juga melakukan strategi-strategi yang jitu untuk membuka pasar di Asia Tenggara, Timur, dan Oseania," tambah dia.

Kementerian Pariwisata menetapkan penyesuaian pasar ini demi mendongkrak angka kunjungan pelancong internasional. Upaya tersebut sekaligus ditujukan untuk menutupi kekosongan pasar yang ditinggalkan oleh turis asal Timur Tengah.

Sebelumnya, eskalasi militer yang melibatkan Amerika Serikat-Israel melawan Iran telah memicu pembatalan massal transportasi udara. Tercatat sebanyak 770 penerbangan menuju Indonesia batal dalam periode 28 Februari hingga 28 Maret 2026.

Pembatalan tersebut berdampak langsung pada penurunan drastis jumlah turis jarak jauh yang dikenal memiliki tingkat pengeluaran tinggi. Imbasnya, Indonesia diperkirakan kehilangan potensi pendapatan devisa mencapai Rp 2,04 triliun.

Apabila krisis ini terus berlanjut sampai akhir tahun, potensi kerugian diproyeksikan semakin membesar. Indonesia terancam kehilangan kunjungan sekitar 1,44 hingga 1,68 juta wisman dengan estimasi devisa yang menguap sebesar Rp 48,3 triliun sampai Rp 56,5 triliun.

Meski menghadapi tantangan berat, target total kunjungan wisman untuk tahun 2026 tidak mengalami perubahan. Pemerintah tetap berkomitmen untuk mengejar target kunjungan sebesar 16 hingga 17,6 juta wisman.

Berdasarkan catatan statistik pada tahun 2025, kawasan Asia Pasifik masih menjadi penopang utama pariwisata Indonesia. Lima negara yang tercatat sebagai penyumbang turis terbesar meliputi Malaysia, Australia, Singapura, China, dan Timor Leste.

Kini, tren preferensi wisatawan internasional telah mengalami pergeseran. Para pelancong lebih selektif dan aktif mencari pengalaman wisata yang unik, personal, serta menawarkan kualitas pelayanan yang tinggi.

Kesadaran terhadap pariwisata berkelanjutan juga semakin meningkat di kalangan turis global. Tren baru ini menuntut adaptasi dan sinergi bersama antara pelaku industri, asosiasi pariwisata, dan pihak pemerintah.

Di sisi lain, performa industri pariwisata nasional pada tahun sebelumnya menunjukkan catatan yang sangat positif. Perolehan devisa pariwisata serta volume perjalanan wisatawan nusantara sepanjang tahun 2025 berhasil memecahkan rekor tertinggi dalam sejarah.

"Capaian devisa pariwisata bersejarah menembus angka Rp 18,27 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara dengan Rp 305,47 triliun," kata Widiyanti.

Pergerakan wisatawan domestik juga mengalami lonjakan yang signifikan pada periode yang sama. Volume perjalanan wisnus menyentuh angka 1,2 miliar perjalanan, atau tumbuh sebesar 17,6 persen jika dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya.

Artikel terkait

Rekomendasi