Kenaikan Harga Avtur Ancam Okupansi Hotel Hingga 20 Persen

Kenaikan Harga Avtur Ancam Okupansi Hotel Hingga 20 Persen

Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) memproyeksikan penurunan okupansi perhotelan sebesar 10 hingga 20 persen akibat lonjakan harga avtur dan biaya tambahan bahan bakar pada Jumat (15/5/2026). Kebijakan kenaikan fuel surcharge hingga 50 persen dari tarif batas atas menjadi konsekuensi yang sulit dihindari industri penerbangan saat ini.

Dilansir dari Industri, konflik geopolitik global memicu kenaikan signifikan harga bahan bakar pesawat yang berdampak langsung pada biaya operasional maskapai. Kondisi ini menekan sektor pariwisata karena kenaikan harga tiket pesawat mulai memengaruhi minat masyarakat untuk melakukan perjalanan wisata.

Ketua Umum GIPI, Haryadi Sukamdani mengungkapkan bahwa perbandingan keterisian kamar hotel akan mengalami penyusutan jika dihitung secara tahunan. Dampak ini merupakan imbas berantai dari mahalnya biaya transportasi udara yang dibebankan kepada konsumen.

"Jadi range-nya itu dibandingkan dengan tahun lalu ya kita hitungnya year-on-year (YoY) antara 10 sampai 20% dibandingkan tahun lalu ya pengaruhnya," ujar Haryadi Sukamdani, Ketua Umum GIPI.

Haryadi menambahkan bahwa lonjakan biaya perjalanan tersebut memberikan pengaruh besar terhadap ekosistem ekonomi leisure secara keseluruhan. Menurut pantauan GIPI pada platform agen perjalanan daring, harga tiket pesawat secara umum telah mengalami kenaikan yang sangat signifikan bagi calon penumpang.

"Kalau kita melihat di online travel agen ya itu kan naiknya rata-rata harga tiket secara umum antara 30-40%," kata Haryadi Sukamdani, Ketua Umum GIPI.

Kenaikan harga ini dinilai akan menghambat tren pertumbuhan positif pariwisata yang sebelumnya diharapkan terjadi pada periode kuartal II-2026. Sebagai langkah mitigasi, GIPI mendorong adanya kolaborasi antar pelaku usaha pariwisata guna mempertahankan eksistensi bisnis di tengah ketidakpastian ekonomi.

"Ya kita memaksimalkan supaya kesempatan kita memperoleh tamu tidak hilang. Nah caranya yang kita lakukan adalah kolaborasi di antara pelaku usaha di pariwisata," sebut Haryadi Sukamdani, Ketua Umum GIPI.

Situasi tekanan biaya ini memaksa para pengusaha di sektor pariwisata untuk mengambil sikap lebih konservatif. Penyesuaian strategi dilakukan guna mencapai target tahunan meskipun kondisi pasar sedang mengalami tantangan besar akibat faktor eksternal.

Artikel terkait

Rekomendasi