Sejumlah pemilik kendaraan bermotor terpaksa menunda waktu servis rutin bulanan akibat lonjakan harga suku cadang dan pelumas di Jakarta pada Rabu (20/5/2026). Penyesuaian jadwal servis menjadi dua bulan sekali dilakukan warga demi menyiasati membengkaknya pengeluaran bulanan, seperti dilansir dari Megapolitan.
Strategi penghematan tersebut salah satunya diterapkan oleh seorang pelanggan bengkel di Jakarta Barat bernama Gari (33). Ia mengaku telah mengetahui kabar kenaikan harga pelumas dan komponen kendaraan melalui berbagai pemberitaan di media massa.
"Biasanya sebulan sekali. Mungkin ini karena ada kenaikan-kenaikan, paling servisnya jadi sebulan setengah sekali, atau due bulan sekali. Ya kayak gitu aja," kata Gari, pelanggan bengkel.
Kenaikan harga suku cadang diakui Gari cukup memengaruhi pengeluaran kesehariannya meski nilainya tidak terlalu signifikan. Akibatnya, ia terpaksa meniadakan uang tip yang biasanya diberikan kepada montir setelah perbaikan selesai.
"Ya paling biasanya kan kita suka ngasih uang tip tuh ke montir kalau abis nyervis, Rp 10.000 atau Rp 15.000. Nah ini karena mungkin naik ya, mungkin ngasih tipsnya dikurangin atau ya enggak dikasih tips dulu lah. Yang penting motornya dulu keservis," ucap Gari.
Keluhan serupa disampaikan oleh Rizki (34), seorang karyawan swasta berpenghasilan setara Upah Minimum Regional (UMR). Dirinya mengaku terkejut saat melihat tagihan servis rutin sepeda motor matiknya melambung tinggi.
"Saya servis tuh kemarin, cuma ganti oli, perbaikan mesin, pembersihan, dan enggak ada spare part yang saya ganti cuma oli karena saya matik oli gardan, oli mesin, terus injection gitu, biasanya Rp 150.000, ini jadi Rp 250.000," keluh Rizki, karyawan swasta.
Uang sebesar Rp 250.000 sebelumnya dinilai Rizki cukup untuk mengganti komponen penting seperti vanbelt. Namun, saat ini biaya tersebut hanya dapat memenuhi biaya jasa servis ringan dan penggantian oli berkala.
"Saya tanyalah di sana kenapa naik, katanya 'Ya kan semuanya naik Bang dari dolar' kata dia gitu. Nah saya enggak memprediksi sih naiknya sampai segitu tinggi gitu. Lumayan buat kantong-kantong gaji UMR gitu, cukup menguras aja," tutur Rizki.
Berbeda dengan pelanggan lain, seorang pekerja lapangan bernama Tomi (31) memilih untuk tidak menunda jadwal perawatan kendaraannya. Penundaan servis dinilai berisiko merusak mesin sepeda motor yang menjadi sarana utama mata pencariannya.
"Kalau nunda servis sih enggak berani. Motor ini kan ibaratnya 'kaki' buat nyari duit tiap hari. Kalau telat ganti oli terus mesinnya jebol, ongkos turun mesin malah bisa jutaan. Pusing nanti," ujar Tomi, pekerja lapangan.
Guna mengatasi penambahan biaya perawatan motor, Tomi memilih untuk memangkas pengeluaran konsumsi pribadinya di jalan. Langkah ini diambil karena lonjakan harga juga terjadi pada berbagai komoditas kebutuhan pokok lainnya.
"Misalnya biasa di jalan ngopi atau jajan dua kali, ya sekarang dikurangin jadi sekali aja. Gitu aja sih ngakalinnya, mau protes juga percuma, soalnya kan emang semuanya naik bukan ini doang," tutur Tomi.
Fenomena pengurangan pengeluaran konsumen ini dibenarkan oleh sejumlah pengelola bengkel di kawasan Palmerah, Jakarta Barat. Salah satu pemilik bengkel bernama Zuhri (50) mengonfirmasi bahwa kenaikan harga modal menahan minat pelanggan untuk servis.
Zuhri menjelaskan bahwa komponen seperti vanbelt motor matik mengalami kenaikan harga modal sekitar Rp 15.000 dari pihak agen resmi.
"Emang naiknya paling ada yang Rp 5.000, paling sampai Rp 15.000. Tapi kan sekali servis itu biasanya ada beberapa yang diganti, diakumulasi kan berasa juga gitu," ucap Zuhri, pemilik bengkel.
Pengelola bengkel lainnya di kawasan Palmerah, Anto (48), memaparkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah memicu lonjakan harga karena mayoritas persediaan suku cadang merupakan barang impor. Kenaikan tertinggi terjadi pada komoditas pelumas mesin.
"Terutama oli ya, yang banyak naik tuh oli. Banyak naiknya. Naiknya itu bisa 30 persen. Ada yang 20 persen, ada yang 30 persen, merk Shell itu dari Rp 55.000 sekarang Rp 75.000," tutur Anto, pemilik bengkel.