Pemerintah Kabupaten Sleman tengah mematangkan rencana pembangunan destinasi wisata baru kereta gantung Prambanan Heritage Skyline sepanjang 8 kilometer untuk menghubungkan objek wisata Tebing Breksi, Candi Banyunibo, dan Candi Miri. Proyek strategis ini dikembangkan melalui skema investasi swasta guna meningkatkan daya tarik pariwisata di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispertaru) Kabupaten Sleman, Dona Saputra Ginting, menjelaskan bahwa rencana lintasan tersebut terbagi dalam tiga segmen utama berdasarkan hasil kajian awal. Pengembangan ini mencakup pembangunan stasiun awal di Candi Banyunibo, stasiun transit di Candi Miri, dan stasiun akhir di kawasan Tebing Breksi, sebagaimana dilansir dari Detik Travel.
"Itu kajian yang mana kajian itu kan sebagai bahan untuk pengambilan kebijakan. Jadi bisa jadi kebijakannya nanti akan ada sedikit perbedaan dengan kajian," kata Dona, Kamis (14/5/2026).
Pihak dinas menegaskan bahwa seluruh teknis pembangunan masih dapat mengalami penyesuaian tergantung pada arah kebijakan pemerintah pusat maupun daerah di masa mendatang.
"Ini rencananya, tapi dengan catatan ini masih kajian. Jadi ada kemungkinan penyesuaian," kata Dona.
Hambatan utama yang kini sedang diselesaikan adalah status lahan karena sebagian titik pembangunan berada di atas Lahan Baku Sawah (LBS) dan Lahan Sawah Dilindungi (LSD). Saat ini, Dispertaru Sleman sedang melakukan pembersihan data atau cleansing agar lahan tersebut dapat digunakan untuk infrastruktur wisata.
"Di tata ruang, kita sekarang prosesnya sedang pengajuan untuk cleansing LBS karena di titik-titik pengembangan itu ada beberapa itu yang masuk LSD, LBS," kata Dona.
Proses koordinasi telah dilakukan dengan Bupati Sleman dan Kementerian ATR/BPN guna memastikan legalitas pemanfaatan ruang sebelum izin konstruksi diterbitkan.
"Itu sudah kita usulkan bagian dari cleansing LBS. Jadi, supaya nanti dia tidak termasuk di zona LBS lagi," kata Dona.
Terpisah, Kepala DPMPTSP Sleman, Triana Wahyuningsih, mengungkapkan bahwa nilai investasi untuk proyek wahana wisata kereta gantung di Kapanewon Prambanan ini diperkirakan mencapai Rp200 miliar. Ide pembangunan ini murni berasal dari pihak investor yang melihat potensi besar pada lanskap perbukitan di Sleman timur.
"Itu benar-benar ide dari investor. Pemerintah Kabupaten Sleman akan mendukung setiap investasi karena nanti kaitannya dengan penambahan PAD, dengan adanya kereta gantung berarti pajak hiburan dan sebagainya bisa masuk," kata Triana, Kamis (7/5).
Pemkab Sleman terus mendampingi investor dalam mengurus izin Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR) sebagai syarat mutlak dimulainya pembangunan fisik.
"Untuk awalnya memang harus memiliki KKPR dulu, kesesuaian tata ruang. Kalau tata ruang ini memang sudah sesuai di sana untuk kegiatan pengembangan wisata buatan," kata Triana.