Pengisian daya cepat atau fast charging menjadi solusi efisien untuk menghemat waktu pengisian baterai kendaraan listrik. Kendati demikian, sebagian pemilik kendaraan masih khawatir bahwa metode ini dapat mempercepat kerusakan komponen baterai.
Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada, Jayan Sentanuhady menjelaskan bahwa konsumen tidak perlu cemas berlebihan. Menurutnya, fitur pengisian cepat ini tidak akan langsung merusak baterai kendaraan.
"Fast charging tetap dibutuhkan, terutama di tempat-tempat umum atau saat kondisi darurat, tapi ini tak boleh terlalu sering, sesekali harusnya masih aman agar usia pakai baterai tetap awet," ucap Jayan seperti dikutip dari Otomotif.
Jayan menambahkan bahwa pasokan arus listrik yang besar dari pengisian cepat cenderung memicu kenaikan suhu baterai secara drastis. Kondisi panas yang berulang inilah yang berpotensi mempercepat degradasi komponen di dalamnya.
"Bila baterai sering panas, maka sel baterai akan cepat rusak, sehingga kesehatannya menurun, jarak tempuhnya jadi lebih pendek," ucap Jayan.
Oleh karena itu, pengguna disarankan untuk mengombinasikan metode pengisian daya demi menjaga keawetan baterai. Pengisian normal dengan arus rendah dinilai lebih efektif untuk pemakaian sehari-hari.
"Misal, mobil akan dipakai beberapa hari ke depan, maka sejak hari ini, konsumen bisa mengecas baterai dengan arus listrik rendah, sehingga pas hari H baterai penuh dan tak mengalami panas," ucap Jayan.
Di sisi lain, Product Planning and Strategy GAC Indonesia, Iqbal Taufiqurrahman menyatakan bahwa kendaraan listrik modern telah dilengkapi dengan teknologi proteksi yang mumpuni. Komponen utama yang berperan aktif adalah Battery Management System (BMS).
"Mobil listrik saat ini sudah dibekali Battery Management System atau BMS yang berfungsi mengatur dan melindungi baterai, mulai dari pengisian daya, suhu, hingga tekanan listrik. Jadi fast charging berulang itu aman selama sistem bekerja normal," katanya.
Sistem BMS bertindak sebagai pengontrol otomatis yang akan menyesuaikan daya pengisian berdasarkan kondisi riil baterai. Jika suhu terpantau terlalu tinggi, sistem secara otomatis menurunkan pasokan daya untuk melindungi sel baterai.
Selain BMS, stabilitas suhu baterai saat pengisian cepat juga sangat bergantung pada tipe sistem pendingin yang digunakan kendaraan. Saat ini terdapat dua jenis sistem pendingin di pasaran, yaitu pendingin udara (air cooling) dan pendingin cairan (liquid cooling).
"Mobil listrik dengan liquid cooling system memiliki keunggulan karena mampu menjaga suhu baterai tetap stabil meski fast charging dilakukan berulang, terutama saat perjalanan jauh dan cuaca panas," kata Iqbal.
Sistem pendingin cairan memiliki efisiensi yang lebih tinggi dalam menyerap panas dibandingkan sistem udara. Fitur ini meminimalkan risiko overheating sehingga mobil lebih siap digunakan untuk perjalanan jarak jauh.
Pengguna disarankan melakukan pengisian cepat saat kapasitas baterai berada pada level rendah hingga menengah. Langkah ini memungkinkan sistem pendinginan bekerja dengan lebih optimal selama proses pengisian berlangsung.
"Kalau dilakukan dengan benar, fast charging bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Justru yang penting adalah perencanaan perjalanan, memilih SPKLU yang sesuai, dan memberi jeda agar sistem kendaraan bekerja optimal," ucapnya.