Kesenjangan industri pariwisata Jepang terlihat dari pemusatan kunjungan wisatawan asing yang hanya mendominasi di tujuh prefektur dari total 47 prefektur pada Minggu (10/5/2026). Fenomena ini memicu kekhawatiran terjadinya pariwisata berlebih atau overtourism yang berpotensi mengganggu kenyamanan penduduk lokal.
Data tersebut dirangkum berdasarkan survei pergerakan masyarakat tahun 2025 yang dilakukan oleh Unerry Inc. dan Kyodo News sebagaimana dilansir dari Detik Travel. Hasil analisis menunjukkan bahwa 72 dari 100 destinasi paling populer di Negeri Sakura tersebut hanya berada di wilayah yang sangat terbatas.
Pejabat dari Asosiasi Agen Perjalanan Jepang menekankan pentingnya pemerataan persebaran turis ke berbagai wilayah lain demi menjaga keberlangsungan sektor pariwisata nasional.
"Meningkatkan penyebaran wisatawan asing ke berbagai daerah merupakan tugas yang mendesak," kata seorang pejabat dari Asosiasi Agen Perjalanan Jepang.
Penelitian ini memanfaatkan data lokasi aplikasi ponsel pintar untuk memantau arus turis di sekitar 25.000 distrik di luar kawasan bandara. Kyoto menduduki posisi puncak dengan 17 lokasi dalam daftar 100 besar, diikuti oleh Hokkaido dengan 16 tempat dan Kanagawa yang memiliki 11 lokasi wisata favorit.
Prefektur lain yang masuk dalam daftar utama mencakup Yamanashi, Osaka, Okinawa, dan Tokyo dengan jumlah enam hingga delapan lokasi wisata. Secara spesifik, area resor ski Niseko di Hokkaido menjadi lokasi yang paling banyak dikunjungi, mengungguli kawasan Kuil Kiyomizu di Kyoto yang berada di peringkat ke-12.
Ketimpangan ekonomi juga terlihat dari data Badan Pariwisata Jepang yang mencatat bahwa Tokyo, Osaka, Kyoto, Hokkaido, dan Okinawa meraup hampir 70 persen dari total malam menginap wisatawan. Sementara itu, sebanyak 31 prefektur lainnya secara kolektif hanya menerima kurang dari 1 persen dari total jatah penginapan tersebut.
Lonjakan jumlah turis hingga mencapai rekor 42,68 juta orang pada tahun 2025 turut dipicu oleh melemahnya nilai tukar yen yang membuat biaya perjalanan menjadi lebih terjangkau. Kondisi kepadatan ini mulai dikeluhkan warga lokal, terutama di Kyoto yang merasakan gangguan akibat keramaian berlebih di jalanan mereka.