Sektor pariwisata dunia mulai tertekan oleh konflik Timur Tengah yang masih terus berlangsung. Seperti dikutip dari Detik Travel, Singapura sebagai salah satu negara dengan pendapatan tertinggi kini memproyeksikan adanya perlambatan belanja wisata pada tahun 2026.
Meskipun jumlah kunjungan wisatawan diperkirakan tetap mengalami peningkatan, namun perbandingan jumlah belanja wisata menurut sedikit lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu.
Penurunan kepercayaan konsumen dan pelaku bisnis terhadap pariwisata ini dipicu oleh dampak konflik di Timur Tengah tersebut. Berdasarkan proyeksi Singapore Tourism Board (STB), penerimaan sektor pariwisata tahun ini diperkirakan berada di kisaran 31 miliar hingga 32,5 miliar dolar Singapura.
Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan dengan capaian rekor sebesar 32,8 miliar dolar Singapura pada tahun 2025. Padahal, jumlah kunjungan wisatawan internasional diprediksi naik menjadi 17 hingga 18 juta orang dari 16,9 juta pada tahun sebelumnya.
Kepala Eksekutif STB, Melissa Ow, menyebut permintaan wisata diperkirakan akan melambat dalam beberapa bulan ke depan. Hal ini sejalan dengan peringatan pemerintah Singapura terkait dampak ketidakpastian global, termasuk krisis energi di Timur Tengah, yang berpotensi memengaruhi pengeluaran wisatawan.
Di sisi lain, gangguan pada rute penerbangan juga mulai terasa. Singapore Airlines bahkan memperpanjang pembatalan penerbangan rute Singapura–Dubai hingga Agustus 2026 akibat situasi geopolitik yang belum stabil.
Kondisi ini turut memengaruhi pola perjalanan wisatawan internasional. Meski demikian, Singapura tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang sektor pariwisata.
Pemerintah telah menyiapkan dana sebesar 740 million dolar Singapura untuk memperkuat industri ini dalam lima tahun ke depan. Alokasi dana ini meningkat signifikan dibandingkan dengan jumlah anggaran sebelumnya.
Fokus Baru Wisata Kapal Pesiar
Singapura juga mulai mengalihkan fokus ke sektor wisata kapal pesiar sebagai alternatif. Kehadiran kapal pesiar Disney Adventure yang mulai beroperasi dari Singapura sejak Maret 2026 menjadi salah satu upaya menarik lebih banyak wisatawan.
Pemerintah juga bersiap membuka terminal kapal pesiar dan feri baru pada Juli 2026 mendatang untuk mendukung pertumbuhan sektor ini. Langkah adaptasi ini juga memengaruhi strategi pariwisata di kawasan Asia Tenggara.
Adanya perubahan cara berwisata membuat sejumlah pelaku industri pariwisata harus cepat beradaptasi. Negara seperti Indonesia, Malaysia, dan Thailand yang sebelumnya mengandalkan wisatawan jarak jauh dari Eropa dan Timur Tengah, kini fokus beralih pada pasar regional seperti Asia Tenggara, China, India hingga Jepang.
Selain lebih mudah dijangkau, perjalanan jarak dekat juga dinilai lebih stabil di tengah situasi global yang tidak menentu. Meski jumlah wisatawan secara umum masih terjaga, namun wisatawan dari jarak jauh biasanya tinggal lebih lama dan mengeluarkan biaya lebih besar dibandingkan wisatawan regional.
Perubahan rute perjalanan ini juga bisa memicu persaingan antarnegara di Asia Tenggara yang kini mulai membidik pasar wisatawan yang sama. Diperlukan strategi yang kuat dan pengalaman wisata yang berbeda agar mampu bersaing secara sehat dari segi destinasi dan harga.
Meski begitu, minat masyarakat untuk bepergian tetap tinggi. Banyak wisatawan yang hanya mengubah tujuan perjalanan ke negara yang lebih dekat dan dianggap aman, alih-alih membatalkan rencana liburan sepenuhnya.