Krisis Energi Global Percepat Adopsi Truk Listrik di Tiongkok

Krisis Energi Global Percepat Adopsi Truk Listrik di Tiongkok

Lonjakan harga bahan bakar minyak akibat konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran memicu pergeseran masif penggunaan truk berat dari diesel ke tenaga listrik di Tiongkok pada Mei 2026. Penetrasi kendaraan energi baru tersebut mencapai rekor tertinggi seiring upaya pengusaha logistik menekan biaya operasional di tengah blokade Selat Hormuz.

Data dari China Passenger Car Association yang dikutip Cnevpost menunjukkan tingkat penetrasi kendaraan energi baru di Tiongkok menyentuh angka 62,8 persen dari total penjualan pada April 2026. Kondisi ini berbanding lurus dengan pertumbuhan penjualan truk berat listrik sebesar 45 persen secara tahunan menjadi 44.000 unit pada kuartal pertama tahun ini.

Kenaikan harga diesel eceran di Tiongkok yang mencapai 27 persen menjadi faktor utama pendorong transisi tersebut. Saat ini, harga diesel berada di kisaran US$4,50 per galon, sementara bensin menyentuh US$5 per galon, yang memaksa sektor transportasi beralih ke teknologi yang lebih efisien.

Pengemudi aplikasi transportasi DiDi di Changsha, Liu Zhou, memberikan kesaksian mengenai perubahan kondisi ekonomi akibat kenaikan harga bahan bakar tersebut.

"Harga bensin naik drastis sekarang. Jika Anda sering mengemudi, kendaraan listrik adalah pilihan terbaik," ujar Liu Zhou.

Sektor logistik mencatat bahwa biaya seumur hidup truk listrik untuk jarak satu juta kilometer hanya separuh dari truk diesel. Meskipun harga beli truk listrik mencapai 500.000 Yuan, lebih mahal dibanding truk diesel senilai 300.000 Yuan, efisiensi jangka panjang tetap menjadi daya tarik utama bagi para pengusaha.

Analis senior di S&P Global Mobility, Min Ji, menyoroti bagaimana situasi geopolitik di Iran memberikan dampak langsung terhadap pasar otomotif domestik Tiongkok.

"Perang telah mendongkrak harga bahan bakar domestik, yang secara tak terelakkan mempercepat penggantian truk tradisional," kata Min Ji.

Di sisi lain, pengusaha Amerika Serikat yang berbasis di Beijing, Manuel C. Menendez, menilai investasi Tiongkok pada teknologi hijau selama dua dekade terakhir telah memberikan ketahanan ekonomi yang signifikan.

"Tiongkok telah beralih dari bahan bakar fosil. Dampak krisis ini tidak akan sebesar yang diperkirakan orang," tutur Manuel C. Menendez.

Namun, pesatnya pertumbuhan ini juga membawa tantangan internal berupa kompetisi yang sangat ketat antar produsen. Direktur China Climate Hub di Asia Society Policy Institute, Li Shuo, menjelaskan bahwa tekanan di pasar domestik justru memperkuat posisi tawar perusahaan Tiongkok secara global.

"Mereka sangat sukses secara teknologi dan mampu menghadirkan produk paling kompetitif secara biaya di pasar global," jelas Li Shuo.

Berdasarkan laporan otomotif.sindonews.com, pabrikan seperti Sany kini mulai memasarkan truk dengan jangkauan hingga 600 kilometer. Sementara itu, BYD telah melampaui Tesla sebagai produsen mobil listrik terbesar dunia dengan catatan penjualan 2,25 juta unit pada tahun lalu.

Artikel terkait

Rekomendasi