Pebalap Repsol Honda Luca Marini mendesak pelarangan segera penggunaan perangkat pengatur ketinggian motor atau height adjustment device demi keselamatan di lintasan. Permintaan ini menyusul kecelakaan horor pada balapan MotoGP Catalunya 2026, Selasa (19/5/2026), seperti dilansir dari Detik Oto.
Insiden teknis dialami langsung oleh Marini saat balapan diulang di Sirkuit Catalunya. Perangkat penurun motor milik pebalap asal Italia tersebut macet dan terus aktif, sehingga ia hampir tidak bisa menghentikan laju kendaraan balapnya.
"Pada restart ketiga, saya tidak bisa menghentikan motor karena perangkat tersebut masih aktif. Itu jauh lebih berbahaya!" buka Marini.
Marini menjelaskan bahwa dirinya terpaksa melewati dua tikungan awal dengan kondisi perangkat penurun motor yang masih menyala. Demi melepaskan alat yang macet tersebut, ia terpaksa menegakkan motor dan sengaja menjatuhkannya ke bawah.
"Saya terpaksa melewati dua tikungan pertama dengan kondisi perangkat masih aktif. Setelah itu, saya harus menegakkan motor dan sengaja menjatuhkannya ke bawah agar alat itu terlepas. Kami semua ingin teknologi ini segera diakhiri," tegas Marini.
Meskipun regulasi MotoGP sudah memutuskan untuk melarang perangkat ini mulai tahun 2027, Marini menilai penundaan tersebut sebagai kesalahan besar. Masalah teknis ini dinilai harus segera diselesaikan sebelum memakan korban baru, terutama di sirkuit dengan trek lurus panjang seperti Mugello.
"Mugello itu sama persis seperti di sini (Catalunya). Semua pembalap menurunkan perangkat mereka di trek lurus, dan kita semua bisa kecelakaan saat mengerem. Itulah mengapa hal ini perlu diperbaiki secepatnya!" lanjut Marini.
Adik tiri Valentino Rossi ini menyadari bahwa olahraga balap motor memang sarat risiko sejak awal. Kendati demikian, keberadaan teknologi height device saat ini dianggap menjadi faktor pemicu utama yang memperbesar peluang terjadinya kecelakaan massal di lintasan.
"Memang bukan sepenuhnya salah perangkat tersebut, karena kecelakaan sudah ada sejak dulu sebelum alat itu eksis. Tapi tidak bisa dipungkiri, alat itu sangat membantu memicu terjadinya kecelakaan," pungkasnya.
Kecelakaan hebat di Catalunya melibatkan pebalap Johann Zarco dan Alex Marquez yang langsung dilarikan ke ruang operasi akibat cedera brutal. Situasi di area paddock sempat memuncak karena panitia memutuskan untuk memulai kembali balapan hanya 10 menit setelah insiden tragis itu terjadi.
"Itu adalah bagian dari apa yang dituntut dari kami sebagai pembalap MotoGP. Kami tahu bahwa olahraga otomotif sangat berbahaya, dan sepeda motor pun sangat berbahaya," ungkap Marini.
Marini menambahkan bahwa kecelakaan yang menimpa Alex Marquez merupakan sebuah nasib sial di lintasan balap. Menurutnya, hal brutal seperti itu tetap bisa terjadi terlepas dari seberapa luas ruang pembatas yang disediakan di sirkuit.
"Kecelakaan yang dialami Alex benar-benar sebuah nasib sial. Bahkan dengan ruang pembatas seluas apa pun di dunia, hal brutal seperti itu tetap bisa terjadi. Motor itu berbahaya, kawan. Kami semua di sini siap mempertaruhkan nyawa kami di setiap tikungan, di setiap lap!" lanjut dia.
Kejadian horor ini memicu trauma tersendiri bagi Marini setelah ketegangan di lintasan mereda. Marini kemudian membandingkan penanganan insiden ini dengan memori kelam dari tragedi masa lalu yang pernah dialaminya di Sirkuit Suzuka, Jepang.
"Saya sangatmenyesal atas apa yang menimpa Zarco. Sekarang, setelah ketegangan balapan mereda, saya merasa sangat terpukul dengan kejadian ini," tutur Marini.
Marini merasa sedikit lega karena tindakan medis terhadap para korban di Catalunya bisa dilakukan dengan lebih cepat. Respons cepat tim medis di sirkuit menjadi pembeda utama dari peristiwa kelam yang pernah terjadi di Suzuka.
"Tapi untungnya, berbeda dengan kejadian (tragedi) di Suzuka, operasi di sini bisa langsung dilakukan dengan segera," tambahnya lega.