Masa Depan Pariwisata Asia Pasifik Ditentukan Perubahan Perilaku Wisatawan

Masa Depan Pariwisata Asia Pasifik Ditentukan Perubahan Perilaku Wisatawan

Masa depan sektor pariwisata di kawasan Asia Pasifik kini ditentukan oleh kemampuan membaca perubahan perilaku wisatawan secara global.

Pernyataan itu menjadi salah satu insight yang mengemuka dalam acara Pacific Asia Travel Association (PATA) Annual Summit 2026 yang digelar pada 11-13 Mei 2026 di Kota Gyeongju dan Pohang, Korea Selatan.

"Insight terbesar dari PATA Annual Summit 2026 adalah bahwa masa depan pariwisata Asia Pasifik tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling banyak mendatangkan wisatawan, tetapi siapa yang paling mampu membaca perubahan perilaku wisatawan," kata Ardiyansyah Djafar, delegasi PATA Indonesia Chapter seperti dikutip Sabtu (16/5/2026).

Pacific Asia Travel Association (PATA) memproyeksikan international visitor arrivals di kawasan Asia Pasifik akan mencapai angka 761,2 juta pada 2028 mendatang.

Sementara itu, sebanyak 68,3 persen inbound travel kawasan Asia Pasifik pada 2025 diproyeksikan berasal dari intra-regional travel atau perjalanan antarnegara di kawasan tersebut.

| Ardiyansyah Djafar, delegasi PATA Indonesia Chapter di Korea Selatan. Foto: (dok. Istimewa) |

| ------------------------------------------------------------------------------------------- |

Menurut Ardiyansyah, angka tersebut menjadi sinyal penting bahwa persaingan destinasi wisata ke depan akan semakin ditentukan oleh kemampuan tiap negara dalam memahami kebutuhan wisatawan yang terus berubah.

AI dan digitalisasi juga menjadi salah satu pembahasan menarik di dalam forum tersebut. Destination marketing saat ini tengah mengalami pergeseran besar. Perubahan tersebut dipengaruhi ekspektasi wisatawan yang semakin terfragmentasi.

Perkembangan artificial intelligence (AI) benar-benar mengubah cara wisatawan mencari inspirasi hingga melakukan booking, serta kompetisi antardestinasi yang semakin luas.

Dalam laporan State of Destination Marketing 2026, perusahaan travel marketing technology Sojern menyoroti para destination marketer (orang atau lembaga yang menjalankan promosi) sekarang ini menghadapi tekanan lebih besar untuk mampu menunjukkan dampak yang terukur atas strategi pemasaran yang dijalankan.

Bagi Indonesia, insight tersebut dinilai sangat relevan dengan kondisi industri pariwisata nasional saat ini. Dengan capaian 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang 2025, 1,20 miliar perjalanan wisatawan nusantara, serta momentum 1,09 juta kunjungan wisman pada Maret 2026, Indonesia dinilai telah memiliki fondasi pasar yang kuat.

"Tantangan Indonesia saat ini bukan hanya mendatangkan wisatawan, tetapi bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi kualitas pengalaman yang lebih autentik, digital-ready, berkelanjutan, inklusif, dan bernilai tinggi, baik bagi wisatawan asing maupun domestik," tambah dia.

Menurut Ardiyansyah, perubahan perilaku wisatawan global juga menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat positioning pariwisata berbasis pengalaman, budaya, keberlanjutan, serta konektivitas digital yang semakin terintegrasi dengan kebutuhan wisatawan masa kini.

Ia berharap ke depan semakin banyak pelaku industri pariwisata nasional, termasuk regulator seperti Kementerian Pariwisata dan InJourney, bisa terlibat dalam forum internasional seperti PATA Annual Summit di tahun selanjutnya.

"Momen seperti PATA Annual Summit menjadi penting tidak hanya bagi pelaku industri pariwisata, tetapi juga regulator dan pemangku kebijakan pariwisata di Indonesia. Forum ini memberikan insight, data, serta gambaran mengenai arah perubahan industri pariwisata global yang sangat relevan untuk mengambil strategi pengembangan destinasi yang tepat bagi Indonesia ke depan," tutupnya.

Artikel terkait

Rekomendasi