Minat Wisata Ekspedisi Antartika Meningkat di Tengah Risiko Medis

Minat Wisata Ekspedisi Antartika Meningkat di Tengah Risiko Medis

Minat perjalanan ekspedisi menggunakan kapal pesiar ke wilayah terpencil seperti Antartika dan Arktik mengalami lonjakan signifikan pada Selasa (12/5/2026). Fenomena ini didorong oleh keinginan wisatawan mendapatkan pengalaman berbeda di destinasi yang masih alami meskipun memiliki risiko akses medis yang terbatas.

Data dari Cruise Lines International Association yang dilansir dari Detik Travel menunjukkan industri kapal pesiar telah melayani 37,2 juta penumpang sepanjang 2025. Angka tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 7,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan diprediksi akan menyentuh 42 juta penumpang pada 2028.

Pendiri Travelopod, Ritu Panesar, mengamati bahwa segmen ekspedisi menjadi primadona bagi wisatawan premium. Banyak pelancong bersedia mengalokasikan dana antara USD 30.000 hingga USD 50.000 per orang demi mencapai lokasi yang sulit dijangkau.

"Orang-orang mencari pengalaman yang terasa langka dan mengubah hidup. Mereka ingin mengunjungi tempat yang masih terasa alami dan belum tersentuh," ujar Ritu Panesar.

Tren ini diperkuat oleh data Squaremouth yang mencatat kenaikan pencarian perjalanan ke Antartika sebesar 34 persen pada periode empat bulan pertama tahun 2026. Namun, kemunculan wabah virus hanta di MV Hondius sempat memicu kekhawatiran mengenai keamanan kesehatan di lokasi terpencil.

Pendiri Travel Coach Network, Sahara Rose DeVore, menjelaskan bahwa pada umumnya para pelancong sudah memahami konsekuensi dari perjalanan di daerah tanpa fasilitas kesehatan memadai.

"Wisatawan tahu ada ketidakpastian dalam perjalanan ekspedisi, tetapi destinasi seperti Antartika tetap memiliki permintaan tinggi meski ada risiko," ungkap Sahara Rose DeVore.

Peningkatan kesadaran akan risiko keselamatan juga dikonfirmasi oleh CEO Global Rescue, Dan Richards. Menurutnya, kini konsumen lebih memprioritaskan rencana perlindungan darurat sebelum memutuskan untuk berangkat.

"Orang-orang sekarang lebih sadar risiko. Mereka ingin punya rencana cadangan," ujar Dan Richards.

Richards menekankan bahwa ketiadaan fasilitas helipad pada banyak kapal ekspedisi menyulitkan proses evakuasi medis di tengah laut lepas.

"Kalau sesuatu terjadi di laut lepas dan kapal berada lebih dari 150 mil dari daratan, bantuan yang bisa dilakukan sangat terbatas," tambah Dan Richards.

Pakar asuransi perjalanan turut memperingatkan bahwa biaya evakuasi medis dari wilayah ekstrem tersebut dapat membengkak hingga melampaui USD 250.000. Sementara itu, pengacara maritim Jason Margulies mengingatkan bahwa biaya perjalanan yang mahal tidak berbanding lurus dengan ketersediaan fasilitas medis darurat.

"Yang didapat wisatawan sebenarnya adalah perjalanan berisiko di wilayah terpencil dengan akses medis yang tidak mudah," ujar Jason Margulies.

Artikel terkait

Rekomendasi