Lonjakan harga bahan bakar minyak nonsubsidi seperti Pertamina Dex dan Dexlite tidak serta-merta menyurutkan minat konsumen terhadap mobil diesel bekas. Jenis kendaraan ini tetap menjadi buruan di pasar lelang karena reputasi ketangguhan, efisiensi bahan bakar untuk rute jauh, serta daya tahan mesin yang tinggi.
Tren positif tersebut tercermin dari aktivitas transaksi di balai lelang kendaraan bekas JBA Indonesia, seperti dilansir dari Otomotif. Berbagai model SUV hingga kendaraan komersial bermesin diesel terpantau mendominasi pilihan para pencari mobil sepanjang awal tahun 2026.
“Pada periode Januari–April 2026, model kendaraan bekas berbahan bakar diesel yang diminati di balai lelang JBA Indonesia didominasi oleh segmen SUV, kendaraan niaga ringan, dan kendaraan operasional,” kata Johan Wijaya, Marketing & Sales Division JBA Indonesia.
Daya tarik utama dari SUV bermesin diesel terletak pada performa mesin yang andal untuk mobilitas harian maupun perjalanan jarak jauh. Faktor keandalan ini membuat unit bekasnya tetap memiliki pasar yang kuat dan stabil.
“Beberapa model yang cukup banyak diminati antara lain Mitsubishi Pajero, Mitsubishi Triton, Toyota Fortuner, Toyota Hilux, serta Toyota Innova Diesel,” ucap Johan.
Stabilitas harga jual kembali dan kemudahan akses jaringan servis di berbagai wilayah Indonesia turut memperkuat posisi model-model tersebut. Alasan ini membuat konsumen tidak ragu memilih mobil diesel walau biaya operasional bahan bakar kini lebih tinggi.
Selain segmen kendaraan penumpang, ceruk pasar kendaraan niaga diesel juga memegang peranan penting di lantai lelang. Para pelaku usaha masih mengandalkan kendaraan diesel yang memiliki karakter torsi besar untuk mengangkut beban berat.
“Sementara pada segmen kendaraan usaha, model seperti Mitsubishi L300, Mitsubishi Canter, dan Mitsubishi Fuso juga masih cukup diminati,” kata Johan.
Kendati demikian, dinamika pasar mobil diesel bekas saat ini tetap merasakan dampak dari penyesuaian harga Pertamina Dex dan Dexlite. Tingginya harga BBM nonsubsidi tersebut memaksa calon pembeli bertindak lebih selektif dalam mengalkulasi fungsi dan efisiensi kendaraan sebelum bertransaksi. Tekanan ini pada akhirnya turut memengaruhi koreksi harga jual kembali pada beberapa model diesel tertentu di pasar sekunder.