Pasar otomotif China dilaporkan mulai memasuki fase jenuh setelah total kepemilikan kendaraan di negara tersebut menyentuh angka kisaran 370 juta unit. Kondisi kelesuan ini memicu persaingan yang semakin ketat di antara para produsen kendaraan listrik.
Perlambatan penjualan mobil domestik di China sepanjang tahun 2026 ini disampaikan oleh Chief Executive Officer (CEO) NIO, William Li. Berdasarkan data yang dihimpun, situasi tersebut menandakan bahwa China kini bukan lagi menjadi pasar otomotif dengan pertumbuhan yang tinggi seperti tahun-tahun sebelumnya, sebagaimana dilansir dari Suara.
"China bukan lagi pasar yang bertumbuh, melainkan pasar yang sudah jenuh," ujar William Li, CEO NIO.
Penegasan mengenai kejenuhan pasar ini muncul setelah industri kendaraan listrik di China berkembang sangat agresif dalam beberapa tahun terakhir. Agresivitas tersebut memicu terjadinya perang harga yang sengit di antara para produsen otomotif domestik.
Situasi pasar yang penuh memaksa para produsen mobil untuk bekerja ekstra keras demi mempertahankan pangsa pasar sekaligus mendongkrak margin keuntungan. Langkah strategis kini beralih pada peluncuran model-model kendaraan baru dengan posisi premium atau flagship.
Strategi tersebut diimplementasikan oleh NIO melalui pengenalan produk SUV flagship terbarunya yang bernama ES9. Langkah ini dinilai krusial bagi korporasi untuk menjaga daya saing di tengah kelesuan pasar.
Peluncuran model baru ini langsung direspons positif oleh pasar finansial dengan lonjakan harga saham NIO sebesar 10,5 persen di bursa Hong Kong. Pertumbuhan tersebut berpotensi menjadi catatan kenaikan harian terbesar bagi perusahaan sejak Maret 2026.