Observatorium Timau NTT Berpotensi Besar Jadi Destinasi Wisata Langit Gelap

Observatorium Timau NTT Berpotensi Besar Jadi Destinasi Wisata Langit Gelap

Observatorium Bosscha selama ini dikenal sebagai ikon wisata astronomi di Indonesia. Namun kini, perhatian dunia astronomi mulai mengarah ke Nusa Tenggara Timur dengan hadirnya Observatorium Timau.

Observatorium Timau dinilai memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata langit gelap atau dark sky tourism karena kondisi langitnya yang sangat jernih, seperti dikutip dari Detik Travel.

Pada sesi paparan mengenai pariwisata dalam agenda BRIN Goes to Industry, Jakarta, Selasa (19/5/2026) peneliti dari Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan, Ninawati Syahrul, menjelaskan Timau dipilih karena memiliki kondisi atmosfer yang mendukung pengamatan bintang, wilayah tersebut minim awan hampir sepanjang tahun.

"Nah kenapa di Timau pertanyaannya? Kenapa tidak di tempat lain? Nah ini cantik sekali ya karena di Timau itu langitnya masih bersih. 70 persen malam yang ada di Timau itu tidak ada awan jadi bersih sekali," ujarnya.

Selain itu, lokasi Timau yang berada di kawasan khatulistiwa menjadi nilai tambah tersendiri. Pengunjung dapat melihat langit utara dan selatan sekaligus dalam satu hamparan langit malam.

"Kemudian itu adalah garis khatulistiwa ketika melihat bintang di malam hari bisa melihat langsung, melihat bintang itu di langit utara dan langit selatannya jadi begitu luasnya seperti itu," katanya.

Tak hanya menawarkan wisata astronomi modern, Timau juga memiliki kekayaan budaya lokal terkait pengamatan bintang atau etnoastronomi. Masyarakat setempat sejak lama memanfaatkan bintang sebagai penanda musim dan kondisi alam.

Salah satunya kemunculan Bintang Tujuh pada November yang dipercaya menjadi tanda berakhirnya musim kemarau dan dimulainya musim tanam. Warga juga menggunakan bintang Bima Sakti sebagai penanda musim madu, sementara posisi bintang sabit dipercaya berkaitan dengan kondisi dunia.

"Nah bintang sabit ini kalau dia berdiri itu menandakan akan ada wabah. Mungkin waktu COVID ada bintang sabit ya jadi ada wabah COVID seperti itu. Kalau miring itu menandakan aman sentosa dunia aman sentosa," ujarnya berkelakar.

Kecerahan langit Timau disebut sangat baik hingga cahaya dari Venus bisa dimanfaatkan warga untuk penerangan saat memanen madu pada malam hari tanpa lampu tambahan.

Potensi perpaduan antara astronomi, budaya lokal, dan wisata alam inilah yang kini mulai dikembangkan menjadi wisata minat khusus di Timau. Kehadiran Observatorium Timau diharapkan dapat mendukung penelitian astronomi sekaligus membuka peluang ekonomi masyarakat melalui wisata edukasi dan observasi langit malam.

"Nah inilah potensi sebetulnya potensi yang kami inginkan dari etnoastronomi ini yang terakhir ini adalah potensi wisata langit gelap yaitu terkait dengan budaya lokal, observasi langit malam, edukasi astronomi, dan wisata komunitas," ujar dia.

Artikel terkait

Rekomendasi