Pasar sepeda motor impor utuh atau Completely Built Up (CBU) di Indonesia tetap bertahan di tengah fluktuasi ekonomi nasional pada Senin (11/5/2026). Segmen kendaraan hobi ini mencatatkan angka penjualan yang stabil meskipun dibanderol dengan harga jauh lebih tinggi dibandingkan model rakitan lokal.
Stabilitas pasar ini didorong oleh karakteristik konsumen yang didominasi oleh kalangan penghobi otomotif. Hal tersebut menyebabkan performa penjualan motor impor tidak terlalu terpengaruh oleh kondisi pasar motor nasional secara umum.
Pemilik diler Safari Motor di Jakarta Barat, Kamal Firhad, memberikan penjelasan mengenai profil pembeli kendaraan premium tersebut sebagaimana dilansir dari Otomotif. Ia menyebutkan bahwa motor CBU biasanya bukan merupakan kendaraan utama bagi pemiliknya.
"Motor CBU enggak ngaruh (kondisi pasar) kayaknya. Karena rata-rata penghobi, dan enggak mungkin jadi motor pertama. Pasti motor kedua atau ketiga," ujar Kamal, Pemilik Safari Motor.
Keyakinan Kamal didasari pada tren permintaan unit yang tidak menunjukkan penurunan signifikan. Ia menegaskan bahwa operasional bisnis di segmen ini masih berjalan pada level standar yang terjaga.
"Alhamdulillah (pembeli) masih ada saja. Stabil-stabil saja. Enggak (menurun) sih. Standar saja, enggak ada pengaruh," ucap Kamal, Pemilik Safari Motor.
Meskipun pasar stabil, tingginya harga jual tetap menjadi hambatan utama bagi perluasan konsumen motor impor di tanah air. Tingginya angka pada label harga disebabkan oleh struktur perpajakan dan biaya impor yang sangat kompleks dan berlapis.
Komponen biaya tersebut meliputi Bea Masuk, Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22, hingga Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Untuk motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc, skema pajak yang diterapkan tidak membedakan besaran volume silinder.
"Bea Masuk pasti. Terus PPN juga beda. PPnBM juga masuk. Semua motor di atas 250 cc, PPnBM-nya sama. Mau 1.000 cc atau 500 cc tetap sama," kata Kamal, Pemilik Safari Motor.
Penyeragaman tarif PPnBM untuk kategori mesin besar membuat harga motor 500 cc memiliki beban pajak yang setara dengan motor 1.000 cc. Kondisi inilah yang memicu harga jual di Indonesia bisa melambung hingga ratusan juta rupiah, sangat kontras dengan harga aslinya di negara asal.
Sebagai langkah untuk meningkatkan keterjangkauan harga bagi konsumen, Kamal menyarankan adanya peninjauan ulang terhadap kebijakan fiskal kendaraan mewah. Ia menitikberatkan pada besaran persentase pajak yang dibebankan saat unit masuk ke pasar domestik.
"(Kalau mau lebih murah) intinya PPnBM dikecilkan saja, biar motor bisa masuk," ujarnya Kamal, Pemilik Safari Motor.