Pakar Ungkap Strategi Bisnis di Balik Selisih Harga Pertalite dan Pertamax

Pakar Ungkap Strategi Bisnis di Balik Selisih Harga Pertalite dan Pertamax

Pakar bahan bakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Tri Yuswidjajanto Zaenuri mengungkapkan bahwa penetapan harga jual Pertamax yang lebih rendah dari nilai keekonomian Pertalite merupakan strategi untuk memicu migrasi penggunaan BBM di Indonesia pada Kamis (7/5/2026).

Anomali harga muncul saat nilai asli Pertalite menyentuh Rp16.088 per liter, sementara Pertamax (RON 92) dijual seharga Rp12.300 per liter. Data ini mencuat menyusul unggahan struk pembelian di SPBU Tol Jakarta-Merak yang memperlihatkan besaran subsidi pemerintah mencapai Rp6.088 per liter.

Tri Yuswidjajanto menjelaskan bahwa secara teknis kualitas produk RON 90, 92, dan 95 tidak terpaut jauh sehingga harga di pasar internasional biasanya memiliki selisih tipis. Namun, kondisi di dalam negeri saat ini sengaja diarahkan untuk mendorong kesadaran pemilik kendaraan dalam memilih bahan bakar yang lebih berkualitas.

"Itu adalah strategi bisnis, supaya pengguna Pertalite mau berpindah ke Pertamax. Apalagi, setelah adanya penertiban barcode untuk bisa membeli BBM bersubsidi bagi kendaraan yang tidak sesuai dengan aturan," ujar Yuswidjajanto, Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB).

Langkah ini diharapkan mampu menekan beban anggaran negara. Melalui disparitas harga yang kompetitif, diharapkan terjadi pergeseran pola konsumsi masyarakat menengah ke atas dari bahan bakar bersubsidi menuju produk yang lebih ramah lingkungan.

"Kalau migrasi itu terjadi, mestinya anggaran subsidi BBM bisa berkurang dan bisa dimanfaatkan untuk sektor lain yang lebih bermanfaat," kata Yuswidjajanto.

Persoalan akurasi penyaluran bantuan pemerintah juga menjadi sorotan dalam fenomena ini. Yuswidjajanto menilai sistem yang berlaku saat ini masih rentan mengalami kebocoran karena pengalokasian dana yang belum bersifat personal.

"Subsidi seharusnya melekat pada orang, bukan pada barang. Sehingga, BBM subsidi tidak bisa/boleh dibeli oleh orang yang mampu. Sayangnya, kesadaran itu belum tumbuh di masyarakat kita, sehingga kebocoran subsidi masih sangat besar," ujarnya.

Terdapat perbedaan mendasar pada sumber pendanaan harga jual kedua jenis BBM tersebut. Meskipun harga Pertamax saat ini tergolong rendah jika dibandingkan dengan nilai pasar, beban selisih harganya tidak ditanggung oleh APBN.

"Pertamax bisa dijual di angka Rp 12.300 karena disubsidi oleh Pertamina, bukan oleh negara. Berbeda statusnya dengan Pertalite yang disubsidi pemerintah," pungkas Yuswidjajanto.

Artikel terkait

Rekomendasi