Sektor pariwisata dunia memasuki babak baru dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat signifikan. Dilansir dari Medcom, industri perjalanan global berhasil membukukan nilai capaian rekor hingga USD11,6 triliun sepanjang tahun 2025.
Jumlah fantastis tersebut setara dengan kisaran 10 persen dari total produk domestik bruto (PDB) secara global. Perolehan ini mengukuhkan posisi sektor wisata sebagai salah satu lini industri yang memiliki laju pertumbuhan paling cepat di dunia.
Pemaparan data tersebut menjadi bahasan utama dalam ajang Envision Global Partner Conference 2026 yang berlangsung di Shanghai. Pertemuan internasional ini dihadiri oleh sekurangnya 3.500 pelaku usaha perjalanan yang datang dari 78 negara serta wilayah dunia.
Forum berskala besar ini mengupas sejumlah pergeseran tren yang diproyeksikan bakal mendominasi wajah industri ke depan. Beberapa fokus utama meliputi kemunculan kawasan wisata baru, transformasi kebiasaan para pelancong, serta implementasi kecerdasan buatan (AI).
CEO Trip.com Group Jane Sun menjelaskan bahwa sektor penjelajahan internasional memperlihatkan ketahanan yang sangat kokoh meskipun situasi ekonomi global tengah menghadapi beragam tantangan berat.
"Perjalanan global menunjukkan ketahanan yang luar biasa, dan dengan melonjaknya jumlah wisatawan internasional, kita memasuki babak baru pertumbuhan. Misi bersama kami adalah mengubah momentum ini menjadi nilai jangka panjang bagi seluruh ekosistem perjalanan."
Menurut pandangan Jane Sun, target pasar kini cenderung memprioritaskan bentuk pengalaman yang lebih mendalam sekaligus personal. Oleh karena itu, para pelaku usaha dituntut untuk gencar melakukan investasi inovasi serta mempererat kemitraan lintas sektor.
Konferensi tingkat tinggi tersebut menyoroti lahirnya konsep pola pergerakan baru yang diistilahkan sebagai skema "3 Ds" dalam menggerakkan pasar wisata.
Poin pertama yaitu Discovery of New Emerging Frontiers, yang menggambarkan lonjakan antusiasme pelancong ke wilayah yang sebelumnya sepi peminat. Negara seperti Uzbekistan, Argentina, dan Kolombia menjadi kawasan yang mencatatkan lonjakan kunjungan tertinggi selama 2025.
Aspek kedua dinamakan Diversity of Experiences, yakni kondisi di mana konsumen kian memburu variasi aktivitas yang unik. Contoh konkretnya mencakup kegiatan menyelam di Bali, penjelajahan alam di Cappadocia, hingga agenda mendatangi museum bersejarah di Giza dan Istanbul.
Faktor ketiga merupakan Journeys in Depth, yang menandai maraknya durasi liburan yang lebih panjang serta bermakna. Berdasarkan basis data hiện, sebanyak 15 dari 20 kategori perjalanan dengan akselerasi tercepat didominasi rute lintas negara atau multi-destinasi lewat rata-rata masa tinggal mencapai enam hari.
Fenomena ini merefleksikan bahwa orientasi utama turis telah bergeser dari sekadar kuantitas lokasi yang disinggahi menuju ke arah kualitas pengalaman nyata.
Ekspansi Pemanfaatan AI
Selain pergeseran perilaku dari sisi konsumen, penetrasi teknologi kecerdasan buatan turut memegang andil besar dalam mentransformasi operasional industri.
Serangkaian terobosan mutakhir berbasis AI kini dioptimalkan guna memangkas durasi pemesanan tiket, memformulasikan rekomendasi personal, hingga memandu korporasi mengambil keputusan bisnis.
Pada segmentasi perjalanan dinas, keberadaan agen AI bahkan telah memiliki kapabilitas untuk memvalidasi dokumen permohonan berisiko rendah secara otomatis dengan tingkat akurasi di atas 98 persen. Sementara di ekosistem perhotelan, peranti personalisasi otomatis sukses mendongkrak ribuan transaksi kamar baru setiap harinya.
Lonjakan Kunjungan ke China
Dinamika lain yang terekam sepanjang periode 2025 menunjukkan adanya eskalasi ketertarikan masyarakat dunia untuk berkunjung menuju China.
Selama satu tahun penuh pada 2025, tercatat ada sekitar 20 juta pelancong mancanegara yang difasilitasi lewat ekosistem Trip.com saat menjelajahi berbagai kota di negara tersebut. Di sisi lain, inisiasi program Free City Tours di area Shanghai, Beijing, Hong Kong, dan Shenzhen berhasil menjaring 30.000 turis dari 127 negara hingga April 2026.
Kota Shanghai dan Beijing menjadi titik kumpul dengan kuantitas peserta paling dominan, di mana masing-masing kota melayani lebih dari 12.000 dan 11.000 wisatawan asing.
Guna menjaga konsistensi pertumbuhan, koridor pusat pelayanan multibahasa kini disiagakan pada gerbang masuk utama seperti Beijing, Shanghai, Guangzhou, Hong Kong, dan Shenzhen untuk memberikan bantuan konektivitas internet hingga navigasi transportasi.
Apresiasi terhadap Proyek Inovatif
Dalam rangkaian acara yang sama, sejumlah rancangan pariwisata kreatif dari berbagai belahan dunia mendapatkan apresiasi melalui penghargaan Tourism Innovation Awards. Salah satu pemenang yang terpilih adalah Universal Epic Universe di Orlando, Amerika Serikat, karena dinilai sukses merancang standar baru wahana hiburan lewat integrasi teknologi imersif.
Co-founder sekaligus Chairman Trip.com Group James Liang mengemukakan pandangan bahwa aspek pembaruan bakal menjadi instrumen krusial bagi masa depan bisnis perjalanan.
"Perjalanan adalah tentang merasakan sesuatu yang baru, dan inovasi adalah percikan yang mengubah imajinasi menjadi perjalanan serta rasa ingin tahu menjadi penemuan."
James Liang menambahkan bahwa keberlanjutan sektor pariwisata akan bertumpu pada kompetensi para pelaku industri dalam mengolaborasikan sistem komputasi modern dengan daya kreativitas.
"Para inovator luar biasa yang kami apresiasi tahun ini menunjukkan potensi besar yang muncul ketika teknologi dan visi kreatif bersatu untuk membayangkan kembali berbagai kemungkinan."
Di tengah ketidakpastian kondisi finansial global, jajaran data terbaru mengonfirmasi bahwa sektor perjalanan tetap kokoh berdiri sebagai industri yang resilien. Adanya mobilitas internasional yang dinamis, ekspansi destinasi baru, dan integrasi kecerdasan buatan yang kian masif menandai fase pergeseran terbesar pasca-pandemi.