Pasar kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di Indonesia semakin riuh, terutama pada segmen harga Rp 200 jutaan. Menariknya, peta persaingan kini tidak lagi didominasi oleh mobil listrik berukuran mungil. Tren mulai bergeser ke model SUV ringkas dan hatchback yang menawarkan fungsionalitas lebih ruang bagi keluarga.
Berdasarkan data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), seperti dikutip dari Otomotif untuk kategori wholesales periode Januari-April 2026, pabrikan otomotif asal China tampak masih mendominasi lantai pasar. Sementara beberapa merek baru mulai merangkak mencari celah.
Jika melihat angka performa penjualan, BYD dan Geely melesat menjadi primadona baru di kelas ini. BYD Atto 1 Long Range yang dibanderol Rp 235 juta, sukses mencatatkan angka penjualan yang impresif sebanyak 2.474 unit. Strategi BYD yang menawarkan teknologi Blade Battery dengan daya jelajah lebih jauh di harga kompetitif terbukti ampuh memikat konsumen domestik.
Performa luar biasa juga ditunjukkan oleh raksasa China yang baru kembali, Geely. Lini produk SUV kompak mereka, EX2, langsung menempel ketat di jajaran atas.
Varian tertingginya, EX2 Max yang dipasarkan seharga Rp 269,9 juta, menjadi yang terlaris di keluarga Geely dengan torehan 2.547 unit. Sementara varian entry level-nya, EX2 Pro yang dihargai Rp 239,9 juta, juga tidak kalah kompetitif dengan membukukan penjualan sebanyak 1.022 unit.
Pergeseran Tren Mobil Listrik Mungil
Pionir mobil listrik ringkas seperti Wuling Air ev kini harus puas berada di bayang-bayang para pemain SUV kompak baru. Meski demikian, Air ev tetap memiliki tempat tersendiri bagi kaum urban yang mencari kepraktisan.
Wuling Air ev Lite Long Range seharga Rp 251 juta mencatatkan penjualan sebanyak 101 unit, disusul oleh varian Standard Range yang dijual Rp 214 juta yang laku sebanyak 33 unit. Sementara itu, kompetitor satu segmennya, Seres E1 L-Type yang dijual seharga Rp 219 juta, mampu bertahan dengan kontribusi sebesar 50 unit.
Perjuangan Merek Baru dan Skema Sewa Baterai
Merek asal Vietnam, VinFast, mencoba peruntungan lewat strategi yang sedikit berbeda, yakni mengandalkan opsi skema langganan atau sewa baterai untuk menekan harga jual awal kendaraan.
VinFast VF e34 yang dipasarkan dengan harga Rp 283 juta mencatat penjualan 220 unit. Sedangkan untuk model kompaknya, VF 5 terjual sebanyak 21 unit. Sebagai informasi, VF 5 dilepas dengan harga Rp 212 juta untuk versi sewa baterai, dan Rp 272 jutaan bagi konsumen yang ingin membelinya utuh termasuk baterai.
Pada sisi lain, nasib kurang beruntung harus dialami oleh Jaecoo. Melalui lini J5 EV Standard yang dipasang pada harga Rp 279,9 juta, penantang baru ini belum mampu berbicara banyak dan harus mencatatkan angka penjualan nol unit pada periode ini.
Berikut daftar lengkap penjualan mobil listrik di segmen Rp 200 jutaan:
| Model Mobil Listrik | Harga Jual | Jumlah Penjualan |
|---|---|---|
| Geely EX2 Max | Rp 269,9 Juta | 2.547 unit |
| BYD Atto 1 Long Range | Rp 235 Juta | 2.474 unit |
| Geely EX2 Pro | Rp 239,9 Juta | 1.022 unit |
| VinFast VF e34 | Rp 283 Juta | 220 unit |
| Wuling Air ev Lite Long Range | Rp 251 Juta | 101 unit |
| Seres E1 L-Type | Rp 219 Juta | 50 unit |
| Wuling Air ev Standard Range | Rp 214 Juta | 33 unit |
| VinFast VF 5 (Sewa Baterai) | Rp 212 Juta | 21 unit |
| VinFast VF 5 (Inc. Baterai) | Rp 272 Jutaan | 21 unit |
| Jaecoo J5 EV Standard | Rp 279,9 Juta | 0 unit |