Pasar kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) nasional mencatat lonjakan penjualan sebesar 89,4 persen secara tahunan pada periode Januari hingga April 2026, berdasarkan data yang dilansir dari Otomotif pada Minggu (17/5/2026).
Pertumbuhan signifikan tersebut berbanding terbalik dengan segmen Low Cost Green Car (LCGC) yang justru mengalami penurunan tajam sebesar 25 persen, dari 50.416 unit menjadi hanya 37.823 unit pada periode yang sama.
Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menilai tren ini dipicu oleh peningkatan minat masyarakat terhadap mobil listrik serta rencana pemerintah yang akan memberikan insentif baru pada pertengahan tahun ini.
“Pangsa pasar ICE entry level atau LCGC diproyeksikan mengalami penurunan signifikan secara bertahap, seiring harga BEV yang semakin kompetitif,” kata Yannes Martinus Pasaribu, Pengamat Otomotif ITB.
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dan tingginya bunga kredit kendaraan juga melemahkan daya tarik mobil bermesin konvensional, namun tantangan terbesar berada pada sektor industri rantai pasok lokal akibat ketergantungan komponen impor.
“Transisi yang terlalu agresif tanpa perlindungan yang matang berisiko melemahkan ekosistem manufaktur lokal yang selama ini menopang industri ICE,” ujar Yannes Martinus Pasaribu, Pengamat Otomotif ITB.
Penerapan strategi transisi multi-pathway melalui pengembangan hybrid electric vehicle (HEV) rakitan lokal dianggap perlu untuk menjaga kelangsungan rantai pasok dalam negeri.
“Transisi bertahap selama dua sampai tiga tahun penting untuk memastikan rantai pasok lokal tetap bertahan dan terus berkontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional,” kata Yannes Martinus Pasaribu, Pengamat Otomotif ITB.