Pedagang Mobil Bekas Enggan Stok Kendaraan Listrik Akibat Depresiasi

Pedagang Mobil Bekas Enggan Stok Kendaraan Listrik Akibat Depresiasi

Sejumlah pedagang mobil bekas di Depok dan Bintaro masih enggan menyetok kendaraan listrik karena tingginya tingkat depresiasi harga dibandingkan mobil berbahan bakar bensin pada Selasa (12/5/2026). Dilansir dari Otomotif, ketidakpastian harga unit baru dan kemunculan model anyar menjadi faktor utama penghambat pasar mobil listrik seken.

Singgih dari Willies Mobil di Depok, Jawa Barat, mengungkapkan bahwa dirinya hingga saat ini belum pernah melakukan transaksi jual beli unit bertenaga baterai tersebut. Kurangnya keyakinan terhadap serapan pasar menjadi alasan utama bagi para pelaku usaha di sektor mobil bekas.

“Mobil listrik saya belum pernah ambil, belum pernah jual,” ujarnya kepada Kompas.com, Selasa (12/5/2026).

Penurunan nilai jual yang signifikan dari kondisi baru ke tangan kedua dinilai sangat memberatkan pedagang kelas menengah. Singgih menyebutkan bahwa aspek nilai sisa kendaraan menjadi pertimbangan paling mendasar bagi mereka.

“Masih kurang yakin, terutama untuk penjualan mobil bekasnya,” kata dia.

Perbedaan harga yang tajam menjadi momok bagi pedagang yang terbiasa menangani kendaraan konvensional. Singgih menggarisbawahi bahwa penyusutan nilai tersebut merupakan hambatan pertama yang mereka hadapi saat akan mengambil stok.

“Yang pertama, penurunan harga dari baru ke bekas itu sangat jauh,” ujarnya.

Meski minat masyarakat tinggi, yang terlihat dari data GIIAS 2025 di mana BinguoEV mendominasi uji coba sebesar 63 persen, konsumen mobil listrik dianggap masih terbatas. Pengguna saat ini dinilai masih didominasi kelompok masyarakat tertentu.

“Kalau menurut saya, pemakai mobil listrik sekarang itu benar-benar menengah ke atas atau sekadar ikut tren saja. Misalnya karena ingin terlihat peduli lingkungan,” kata dia.

Selain faktor gengsi, Singgih menyoroti perbedaan drastis antara depresiasi mobil listrik dengan mobil bensin dalam jangka waktu pemakaian yang sama. Ia membandingkan efisiensi energi dengan kerugian nilai aset kendaraan.

“Dibilang mobil listrik lebih irit daripada bensin, mungkin dari sisi konsumsi energi memang iya. Tapi, apakah ada mobil bensin yang dipakai tiga tahun lalu harganya turun sampai 50 persen? Enggak bakal ada,” ujarnya.

Sentimen serupa disampaikan oleh Zidan dari Salman Auto Mobilindo yang melihat fluktuasi harga unit baru justru merusak ekosistem harga barang bekas. Pemotongan harga dari produsen secara tiba-tiba berdampak langsung pada nilai stok yang ada di pasar.

“Posisinya, yang menghancurkan harga pasar mobil listrik itu justru mobil listriknya sendiri. Misalnya kemarin Wuling Air ev dijual dengan harga sekian, lalu harga barunya dipotong lagi,” kata dia.

Tekanan harga ini semakin diperparah dengan masuknya model-model baru yang menawarkan spesifikasi lebih tinggi namun dengan banderol yang lebih kompetitif. Kondisi ini membuat stok model lama kehilangan daya tarik secara instan.

“Belum lagi sekarang ada Wuling BinguoEV yang harganya lebih murah, tapi fiturnya lebih mewah,” ujarnya.

Kekhawatiran terhadap merek asal China juga dirasakan oleh Rama dari Rama Dagang Mobil di Bintaro yang hingga kini masih menahan diri untuk mengambil stok model listrik dari negara tersebut. Ia mengaku kesulitan menentukan angka beli yang aman agar tidak merugi saat menjual kembali.

“Saya belum mau ambil mobil China. Soalnya mobil China saat ini yang bagus kan mobil listrik, kalau mobil bensinnya kurang," ujar Rama kepada Kompas.com.

Masuknya pemain baru seperti BYD Atto 1 kian menekan harga pasar sehingga kompetisi antara unit baru dan bekas menjadi tidak seimbang. Situasi ini membuat pedagang sulit menetapkan margin keuntungan.

"Tapi mobil listrik bekas juga mau kita bayarin berapa? Kita ambil berapa, jual berapa. Sedangkan mobil listrik yang baru juga makin murah, semenjak ada BYD Atto 1 kan. Sulit bersaing dengan harga barunya," katanya.

Rama menambahkan bahwa pola konsumsi masyarakat saat ini masih cenderung memilih unit baru untuk kategori kendaraan listrik. Selain itu, masalah garansi menjadi poin krusial yang dipertimbangkan oleh calon pembeli mobil seken.

"Terus, trennya mobil bekas listrik emang belum ke sana sepertinya. Karena (untuk mobil listrik) orang beli baru. Terus kan ada beberapa garansi yang gugur kalau mobil bekas listrik," kata Rama.

Artikel terkait

Rekomendasi