Pelemahan Rupiah Memicu Lonjakan Harga Suku Cadang Kendaraan di Jakarta

Pelemahan Rupiah Memicu Lonjakan Harga Suku Cadang Kendaraan di Jakarta

Lonjakan harga suku cadang dan oli kendaraan bermotor melanda sejumlah bengkel di Jakarta seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menembus angka Rp 17.600 pada Rabu (20/5/2026).

Kondisi yang disebabkan oleh ketergantungan pada komponen impor ini memaksa para pemilik usaha menaikkan tarif produk guna menyesuaikan biaya operasional yang membengkak, sebagaimana dilansir dari Megapolitan.

Anto, seorang pemilik bengkel motor di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, memaparkan bahwa komoditas yang paling mengalami kenaikan signifikan adalah pelumas mesin akibat pembatasan pasokan luar negeri.

"Iya (naik karena dolar) soalnya kan mereka itu spare part rata-rata pada impor ya," ujar Anto, pemilik bengkel motor.

Ia menambahkan bahwa kenaikan harga modal untuk kebutuhan dasar bengkel melonjak sekitar 20 hingga 30 persen dalam beberapa pekan terakhir.

"Terutama oli ya, yang banyak naik tuh oli. Banyak naiknya. Naiknya itu bisa 30 persen. Ada yang 20 persen, ada yang 30 persen, merk Shell itu dari Rp 55.000 sekarang Rp 75.000," kata Anto.

Kenaikan harga ini juga merembet pada komponen lain seperti ban luar, ban dalam, hingga baut, yang dipicu oleh hambatan rantai pasok global dan mahalnya bahan baku pembungkus plastik.

"Untuk suku cadang lainnya juga naik. Ya ban luar, ban dalam juga, terus untuk baut-baut, tapi semuanya sih hampir semua ya, tapi nggak begitu banyak ya naiknya," ucap Anto.

Situasi sulit berupa kelangkaan barang grosir sempat dialami Anto selama beberapa minggu sebelum penyesuaian harga baru ini resmi diterapkan ke konsumen.

"Katanya sih alasannya salah satunya juga plastik naik, gitu. Terus kalau yang barang-barang yang impor itu pengiriman agak terhambat, stok enggak ada, akhirnya kan barang dibagi-bagi, akhirnya ya mau enggak mau mereka naikkan. Dolar juga lagi naik juga gitu kayak sekarang, rata-rata pada impor. Dari sebelum dolar naik kayak sekarang, perlahan dia," ucap dia.

Meskipun tarif dagangannya meningkat, Anto mengaku stabilitas omzet bengkelnya tidak terganggu karena para pelanggan tetap datang akibat minimnya pilihan alternatif lain.

"Tetap (pelanggan datang), karena kan ya gimana ya, semua naik, jadi ya mereka juga enggak bisa gimana gimana, harus terima kan? Ya enggak bisa ngelak kan, karena semua gitu lho. Bukan kita aja yang naikkan, emang dari dasarnya udah naik," ucap Anto.

Zuhri, pemilik bengkel lainnya, turut membenarkan fenomena kenaikan harga operasional ini, termasuk pada komponen vanbelt yang mengalami kenaikan sekitar Rp 15.000.

"Emang naiknya paling ada yang Rp 5.000, paling sampai Rp 15.000. Tapi kan sekali servis itu biasanya ada beberapa yang diganti, diakumulasi kan berasa juga gitu," ucap Zuhri.

Di sisi lain, para pekerja yang menjadi konsumen bengkel mengeluhkan situasi ini karena menambah beban finansial bulanan mereka di tengah ketidakstabilan ekonomi.

Rizki, seorang pemilik sepeda motor matik, terkejut saat mengetahui biaya servis rutin berkala tanpa penggantian suku cadang berat membengkak dari Rp 150.000 menjadi Rp 250.000.

"Saya servis tuh kemarin, cuma servis ya umum aja ganti oli, perbaikan mesin, pembersihan, dan enggak ada spare part yang saya ganti cuma oli karena saya matik oli gardan, oli mesin, terus injection gitu, servis umum aja, biasanya Rp 150.000, ini jadi Rp 250.000," ucapnya.

Rizki menilai total biaya baru tersebut biasanya sudah mencakup penggantian komponen krusial seperti vanbelt motor.

"Biasanya harga Rp 250.000 itu saya kalo ada yang diganti, sekarang harganya segitu cuma (servis) rutin doang. Saya kaget 'Uh naiknya lumayan juga ya'," tutur Rizki.

Pria berpendapatan setingkat Upah Minimum Regional ini sempat menanyakan lonjakan tarif tersebut langsung kepada pihak montir di tempat langganannya.

"Saya tanyalah di sana kenapa naik, katanya 'Ya kan semuanya naik Bang dari dolar' kata dia gitu. Nah saya enggak memprediksi sih naiknya sampai segitu tinggi gitu," kata dia.

Guna mengantisipasi pembengkakan pengeluaran ke depan, Rizki mengimbau keluarganya untuk lebih merawat dan berhati-hati saat mengendarai motor.

"Ngaruh ke pemakaian ya, jadi saya udah ingetin ke istri jadi pemakaian ya pemakaiannya tuh bener-bener kita rawat supaya enggak ngeluarin biaya besar gitu kan, takutnya ntar biayanya lebih bengkak lagi di tengah kondisi kayak gini gitu," kata Rizki.

Ia berharap stabilitas harga dapat segera kembali karena selisih kenaikan tersebut dinilai menguras anggaran belanja bulanan.

"Saya saya pikir juga ya enggak berdampak banget ya, ternyata waduh yang harusnya biaya servis cuma kita udah budgetin Rp 200.000 ternyata naik Rp 50.000, itu kan lumayan buat ya kantong-kantong gaji UMR gitu jadi cukup mengurah aja gitu," tuturnya.

Seorang pelanggan bernama Gari menerapkan siasat adaptasi yang berbeda dengan cara memperpanjang interval waktu perawatan kendaraannya demi menghemat pengeluaran.

"Biasanya sebulan setengah lah. Sebulan sekali, mungkin ini karena ada kenaikan-kenaikan paling servisnya jadi sebulan setengah sekali, atau dua bulan sekali. Ya kayak gitu aja," kata Gari.

Sebagai langkah penghematan tambahan, Gari berencana mengurangi atau meniadakan uang tip untuk montir agar prioritas utama servis motornya tetap terpenuhi.

"Ya paling biasanya kan kita suka ngasih uang tip tuh ke montir kalau abis nyervis, Rp 10.000 atau 15.000. Nah ini karena mungkin naik ya, mungkin ngasih tipsnya dikurangin atau ya nggak dikasih tips dulu lah. Yang penting apa, motornya dulu keservis," tutup Gari.

Artikel terkait

Rekomendasi