Teknologi canggih kini disematkan pada kendaraan listrik untuk mempermudah kenyamanan berkendara sehari-hari. Berbagai fitur modern seperti pengunci otomatis, electronic shifter, hingga towing mode dihadirkan agar operasional mobil semakin praktis dan aman.
Meski demikian, pemahaman pengemudi terhadap karakter serta sistem kerja mobil listrik dinilai masih menjadi tantangan tersendiri, seperti dikutip dari Otomotif. Fenomena ini terlihat dari beberapa kejadian di mana pengguna kebingungan memindahkan kendaraan saat mengalami kendala teknis.
Mahaendra Gofar menilai bahwa sistem pada mobil listrik jauh lebih modern dibandingkan dengan kendaraan konvensional. Oleh karena itu, para pemilik wajib mengerti mekanisme dasar kendaraan mereka supaya tidak panik ketika berada dalam kondisi darurat.
“Mobil listrik sekarang sudah sangat mengandalkan sistem elektronik, termasuk untuk perpindahan transmisinya. Jadi ketika tidak ada daya, penguncian roda tidak bisa dilepas begitu saja seperti mobil konvensional,” kata Gofar.
Menurut penjelasan Gofar, ketergantungan pada sistem digital ini sering memicu salah paham di masyarakat yang mengira kendaraan listrik sama sekali tidak bisa didorong saat mogok. Padahal, mobil tetap dapat digeser secara manual asalkan sistem kelistrikan masih menyimpan daya untuk memindahkan transmisi ke posisi netral atau mengaktifkan mode darurat.
“Mobil listrik tetap bisa didorong, asalkan kendaraan dapat masuk ke posisi netral. Masalahnya, karena sistemnya elektronik, perpindahan itu membutuhkan daya,” ujarnya.
Salah satu aspek krusial yang wajib dipahami oleh pemilik EV adalah pengoperasian electronic shifter yang sepenuhnya digerakkan oleh daya listrik. Ketika aki 12 volt mengalami mati total, semua fungsi elektrikal pada mobil akan lumpuh, termasuk tuas transmisi yang tidak bisa dipindahkan.
Gofar menyarankan para pengguna untuk mempelajari prosedur darurat, terutama cara mengaktifkan fitur direct mode atau towing mode yang umumnya sudah tersedia di mobil listrik generasi terbaru. Fitur ini berfungsi menjaga transmisi tetap di posisi netral tanpa mengaktifkan rem parkir otomatis, sehingga kendaraan aman untuk didorong saat evakuasi maupun parkir paralel.
“Di mobil listrik, ketika posisi sudah netral lalu pintu dibuka, sistem biasanya otomatis mengaktifkan rem parkir dan kembali ke posisi P. Karena itu ada towing mode agar mobil tetap di posisi netral dan bisa dipindahkan,” kata Gofar.
Kondisi aki 12 volt pada kendaraan listrik juga harus selalu dipantau secara berkala oleh pemiliknya. Walaupun dimensi komponen ini tergolong kecil, perannya sangat vital dalam menyuplai daya awal untuk menghidupkan seluruh sistem komputer dan elektronik kendaraan.
Sebagian besar model EV masa kini sebenarnya sudah dilengkapi dengan sistem pengisian mandiri yang akan menyalurkan daya dari baterai utama ke aki kecil. Namun, pemeriksaan manual tetap diperlukan, khususnya apabila kendaraan tersebut bakal ditinggalkan atau jarang digunakan dalam jangka waktu lama.
“Pada dasarnya sama seperti mobil biasa, aki tetap harus diperhatikan kondisinya. Pengguna juga perlu memahami fitur-fitur dasar mobilnya supaya tidak panik ketika terjadi kendala di jalan,” ujar Gofar.
Lompatan teknologi pada kendaraan ramah lingkungan ini memang menawarkan pengalaman berkendara yang jauh lebih praktis bagi masyarakat. Kendati demikian, adaptasi dari sisi pengemudi tetap memegang peranan penting agar mereka mampu menguasai karakteristik serta seluruh fitur fungsional yang ada pada mobil.