Gaya Berkendara Agresif Picu Pemborosan Baterai Mobil Listrik

Gaya Berkendara Agresif Picu Pemborosan Baterai Mobil Listrik

Gaya berkendara agresif dan beban berlebih diidentifikasi sebagai faktor utama yang menyebabkan daya baterai mobil listrik atau battery electric vehicle (BEV) menjadi cepat terkuras dan jarak tempuhnya berkurang secara signifikan dibandingkan klaim pabrikan.

Efisiensi energi dan biaya operasional yang rendah pada kendaraan listrik dapat terganggu jika konsumsi daya tidak sebanding dengan jarak yang dihasilkan. Hal ini dilansir dari Otomotif mengenai fenomena penggunaan baterai yang terasa boros pada unit BEV.

Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM), Jayan Sentanuhady, menjelaskan bahwa kesan boros muncul ketika angka performa di lapangan jauh di bawah spesifikasi teknis yang dijanjikan produsen.

"Misal klaim dari pabrikan suatu BEV diklaim bisa menempuh jarak 500 kilometer dalam sekali pengecasan, tapi faktanya hanya 300 kilometer atau dibawahnya, ini akan memberikan kesan mobil ini boros," ucap Jayan.

Perbedaan angka tersebut menurut Jayan merupakan hal lumrah karena pengujian resmi seperti WLTP, EPA, atau NEDC dilakukan pada kondisi lingkungan yang terkendali dan sangat ideal.

"Contoh, pengujian standar pabrik umumnya pada suhu udara relatif stabil antara 23-25 derajat Celcius, jalan datar, akselerasi halus, kecepatan rata-rata konstan, penumpang hanya driver saja atau dengan 1 penumpang, hasilnya tentu sangat irit," ucap Jayan.

Realitas di jalan raya sering kali melibatkan kemacetan parah, muatan penumpang yang penuh, serta tarikan gas yang spontan. Jayan menyoroti karakter torsi instan mobil listrik yang sering memancing pengemudi untuk berakselerasi secara mendadak.

"Padahal konsumsi daya listrik paling besar terjadi ketika awal jalan, selain beban menggerakkan mobil berat, butuh daya lebih, gas pol juga akan menguras daya lebih banyak," ucap Jayan.

Selain cara berakselerasi, kecepatan tinggi yang konsisten juga berpengaruh buruk pada daya tahan energi baterai karena sistem dipaksa bekerja ekstra keras untuk melawan hambatan angin.

"Mobil listrik yang kerap dipakai ngebut sampai kecepatan tinggi juga bisa lebih boros, karena daya listrik akan terkuras lebih banyak, waktu tempuhnya bisa lebih cepat tapi jarak lebih pendek," ucap Jayan.

Faktor kenyamanan di dalam kabin melalui penggunaan AC turut mengambil porsi besar dalam konsumsi listrik, terutama saat target suhu diatur pada level terendah di tengah cuaca panas.

"Komponen AC mobil listrik akan membebani baterai, sehingga daya listrik akan terus terkuras selama AC hidup, makin dingin target yang harus dicapai, beban kerjanya makin berat," ucap Jayan.

Artikel terkait

Rekomendasi