PT Pertamina (Persero) kembali melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di seluruh wilayah Indonesia pada hari Minggu, 7 Juni 2026. Dalam kebijakan terbaru ini, korporasi pelat merah tersebut hanya menaikkan harga komoditas Pertamax Turbo, sedangkan tarif untuk varian Dexlite dan Pertamina Dex justru resmi diturunkan.
Langkah penyesuaian tarif energi ini mengacu pada regulasi Keputusan Menteri ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022. Aturan tersebut merupakan perubahan atas Kepmen Nomor 62 K/12/MEM/2020 mengenai Formula Harga Dasar Dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak Umum Jenis Bensin dan Minyak Solar yang Disalurkan Melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum.
Berdasarkan rincian harga di wilayah dengan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) sebesar 5 persen seperti DKI Jakarta dan sekitarnya, Pertamax Turbo dengan angka oktan (RON) 98 kini dipatok seharga Rp20.750 per liter dari harga sebelumnya Rp19.900 per liter. Untuk jenis bahan bakar diesel, Dexlite mengalami penurunan signifikan menjadi Rp23.000 dari sebelumnya Rp26.600 per liter, sementara Pertamina Dex terkoreksi turun menjadi Rp24.800 dari harga semula Rp27.900 per liter.
Di sisi lain, harga untuk jenis BBM nonsubsidi lainnya tercatat stabil, di mana Pertamax tetap dijual Rp12.300 per liter dan Pertamax Green 95 dibanderol Rp12.900 per liter. Pemerintah bersama Pertamina juga tidak mengubah harga jual komoditas BBM bersubsidi, sehingga Pertalite tetap bertahan pada angka Rp10.000 per liter dan Bio Solar pada harga Rp6.800 per liter.
Kenaikan harga Pertamax Turbo ini memerlukan perhatian khusus dari para pemilik kendaraan terkait ketepatan pemilihan nilai oktan demi menjaga keberlangsungan komponen mekanis. Dilansir dari laman Suzuki, bahan bakar dengan spesifikasi RON 98 ini sejatinya dirancang khusus untuk mengakomodasi operasional mobil mewah, kendaraan berperforma tinggi, atau sepeda motor berkapasitas silinder besar yang memiliki rasio kompresi ruang bakar di atas 12:1.
Mesin-mesin modern pada kelas tersebut umumnya telah mengadopsi teknologi manajemen sensitif atau turbocharger yang sangat bergantung pada stabilitas bahan bakar untuk menahan paparan suhu ekstrem. Pengaplikasian bahan bakar beroktan tinggi yang selaras dengan spesifikasi ini diklaim mampu mendorong efisiensi konsumsi bensin, meminimalkan risiko penumpukan kerak karbon, serta menghasilkan semburan tenaga optimal karena dorongan piston bekerja maksimal.
Sebaliknya, otoritas otomotif mencatatkan dampak buruk jika bahan bakar jenis RON 98 ini dipaksakan masuk ke dalam ruang bakar kendaraan berkompresi rendah di bawah 10:1. Ketidaksesuaian teknis tersebut memicu sisa bahan bakar tidak dapat terbakar dengan tuntas hingga menyisakan residu kimia yang mengotori silinder, memicu hilangnya kompresi, serta mempercepat kerusakan komponen sensor emisi seperti Oxygen Sensor dan Catalytic Converter.
Meskipun fluktuasi kenaikan harga BBM oktan tinggi kerap memicu pengendara beralih ke varian oktan rendah demi menghemat pengeluaran harian, otoritas otomotif menilai langkah tersebut kurang tepat karena risiko pembengkakan biaya perawatan jangka panjang. Pengacuan konsumsi bensin pada buku manual kendaraan tetap menjadi investasi paling aman untuk menghindari fenomena ledakan prematur atau knocking yang berpotensi merusak komponen piston secara drastis.