Pakar Tekankan Perubahan Perilaku Berkendara di Era Mobil Listrik

Pakar Tekankan Perubahan Perilaku Berkendara di Era Mobil Listrik

Pakar keselamatan berkendara menekankan pentingnya adaptasi perilaku dan etika bagi pengemudi seiring meningkatnya populasi kendaraan listrik di jalan raya Indonesia pada Senin (4/5/2026). Karakter mobil listrik yang minim suara dan akselerasi instan menuntut penguasaan teknik berkendara yang lebih waspada.

Kebutuhan adaptasi ini muncul karena perbedaan signifikan pada getaran dan respon kendaraan dibandingkan mobil konvensional. Dilansir dari Otomotif, pengemudi diimbau untuk lebih mengedepankan komunikasi non-verbal saat berinteraksi dengan pengguna jalan lain yang mungkin tidak menyadari kehadiran kendaraan listrik.

Pakar keselamatan berkendara, Sony Susmana, menjelaskan bahwa prinsip dasar mengemudi mobil listrik tetap serupa dengan mobil berbahan bakar bensin, namun memerlukan tingkat kesabaran yang lebih tinggi.

"Mobil listrik itu minim suara dan getaran, tetapi gerakannya responsif. Jadi pengemudi harus lebih mengedepankan defensive driving, yakni sabar dan mampu berkomunikasi di jalan," ujar Sony Susmana, Pakar keselamatan berkendara.

Sony menambahkan bahwa komunikasi tersebut mencakup penggunaan lampu sein yang tepat serta menjaga jarak aman antar kendaraan. Ia juga mengingatkan pentingnya mempelajari buku panduan pemilik untuk memahami fitur spesifik sebelum mengoperasikan kendaraan listrik secara rutin.

"Setelah paham kendaraannya, gaya berkendara juga harus berubah. Stop and go itu harus gradual, tidak bisa agresif seperti kebiasaan sebagian pengemudi saat ini," kata Sony Susmana, Pakar keselamatan berkendara.

Menurut Sony, tren kendaraan listrik dapat menjadi pemicu bagi masyarakat untuk memperbaiki kebiasaan buruk di jalan raya. Kedewasaan dalam berkendara menjadi prasyarat utama mengingat teknologi ini menuntut tanggung jawab moral yang lebih besar bagi penggunanya.

"Ini sebenarnya bagus untuk mulai mengubah habit, behavior, dan attitude pengemudi. Ada alasan kenapa mobil listrik dianggap punya grade lebih tinggi, karena menuntut kedewasaan dalam berkendara," ujarnya Sony Susmana, Pakar keselamatan berkendara.

Meskipun teknologi terus berkembang, tantangan utama di Indonesia tetap berakar pada rendahnya tingkat disiplin dan pemahaman aturan lalu lintas. Sony mencatat bahwa sebagian besar pengguna jalan masih memiliki kendala dalam memahami kaidah keselamatan secara utuh.

"Secara aturan sebenarnya sudah baku, tetapi mungkin sekitar 80 persen pengguna jalan belum paham. Jadi kuncinya ada di attitude, harus positif," kata Sony Susmana, Pakar keselamatan berkendara.

Artikel terkait

Rekomendasi