Tekan Biaya Operasional PO Sumber Alam Pangkas Armada yang Beroperasi

Tekan Biaya Operasional PO Sumber Alam Pangkas Armada yang Beroperasi

Ketidakstabilan kurs Rupiah dan rencana kenaikan berbagai instrumen pajak memicu lonjakan biaya operasional yang signifikan bagi perusahaan otobus (PO).

Situasi ini memaksa para pengusaha angkutan bus memutar otak guna mempertahankan kelangsungan bisnis tanpa langsung membebankan kenaikan tarif kepada konsumen.

Rasionalisasi atau pengurangan jumlah armada yang beroperasi di lapangan menjadi salah satu siasat bertahan yang kini diambil oleh operator bus, seperti dilansir dari Otomotif.

Langkah memangkas unit operasional ini terpaksa diambil demi menekan laju keausan komponen sasis dan memperpanjang napas penggunaan suku cadang.

"Kita turunkan operasional. Biasanya misalkan dari Purworejo dan Jogja itu 20 unit, sekarang diringkas per agen menjadi 15 atau 12 unit kira-kira," ucap Anthony di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Pemilik PO Sumber Alam Anthony Steven Hambali menjelaskan, kebijakan tersebut secara otomatis membuat penggunaan suku cadang serta pelumas menjadi lebih efisien.

Meski demikian, manajemen memastikan langkah ini murni penyesuaian armada dan bukan memotong anggaran perawatan yang dapat membahayakan keselamatan penumpang.

"Nah, itu kan cara survival kami yang paling logis. Bukan mengurangi yang harus diganti jadi enggak diganti, bukan itu," kata Anthony.

Kebijakan efisiensi tersebut mendapat pembenaran dari Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI).

Ketua Umum IPOMI Kurnia Lesani Adnan menilai pemangkasan utilisasi armada merupakan jawaban paling masuk akal dari operator bus saat harga komponen harian melonjak tajam.

Pria yang akrab disapa Sani ini membeberkan bahwa harga oli saat ini sudah melonjak dari di bawah Rp 7,2 juta menjadi Rp 9,5 juta.

Selain itu, harga ban kendaraan juga diproyeksikan bakal mengalami kenaikan sekitar 20 persen dalam waktu dekat.

"Pertanyaan yang logis hari ini, dengan kenaikan-kenaikan itu apa yang dilakukan operator sehingga belum menaikkan tarif? Ya kami utilisasi, kami sesuaikan," ujar Sani.

Taktik merampingkan jumlah armada diakui Anthony cukup membantu dalam jangka pendek, namun kemampuan PO bus dalam menahan tarif tetap memiliki batas.

Penyesuaian harga tiket dipastikan akan terjadi apabila kondisi ekonomi tidak kunjung membaik atau muncul kebijakan baru terkait bahan bakar.

"Sampai saat ini memang masih bisa di-handle dengan menurunkan operasional. Tapi pada satu titik kalau misalkan nanti enggak bisa lagi, ya pasti (tarif) akan dinaikkan," kata Anthony.

Artikel terkait

Rekomendasi