Kawasan Kuningan Jakarta Miliki Potensi Besar Wisata Sejarah Budaya

Kawasan Kuningan Jakarta Miliki Potensi Besar Wisata Sejarah Budaya

Kawasan Rasuna Said di Kuningan, Jakarta Selatan, dinilai memiliki potensi besar sebagai destinasi walking tour bertema sejarah dan budaya karena menyimpan bukti evolusi Jakarta modern. Dilansir dari Detik Travel pada Minggu (10/5/2026), narasi wilayah tersebut mencakup aspirasi global Presiden Sukarno hingga kelestarian budaya Betawi.

Sejarawan JJ Rizal menjelaskan bahwa Kuningan bukan sekadar pusat bisnis yang dipenuhi gedung pencakar langit dan kantor diplomatik, melainkan area dengan lapisan sejarah yang mendalam. Visi internasional kawasan ini berakar dari gagasan Sukarno pasca-Konferensi Asia Afrika untuk memperkuat posisi Indonesia di kancah dunia.

"Oh iya, kalau buat walking tour, daerah Kuningan ini daerah yang sangat kaya ya. Karena di sini ada, satu, jejak Sukarno," kata Rizal, Sejarawan.

Rizal memaparkan bahwa rencana awal pembangunan stadion di kawasan tersebut kemudian dialihkan ke Senayan sebagai pusat olahraga nasional. Penempatan berbagai kedutaan besar di sepanjang jalur Kuningan saat ini merupakan perwujudan nyata dari visi internasionalisme yang digagas oleh Sukarno tersebut.

"Karena gagasannya jadi kawasan internasional itu gagasan Soekarno, sesudah dia nggak jadi pakai ini untuk GBK kan, kemudian dipindahin ke Senayan," kata Rizal, Sejarawan.

Konsep kota global ini kemudian diperkuat oleh Gubernur Jakarta Ali Sadikin yang menambahkan dimensi kebudayaan ke dalam politik internasional. Langkah strategis tersebut ditandai dengan pendirian Pusat Perfilman Usmar Ismail dan Sinematek Indonesia yang menjadi pusat dokumentasi perfilman penting di Asia.

"Bang Ali nambahin gagasan internasional tuh bukan hanya gagasan politik karena berkait dengan Konferensi Asia Afrika ya dengan banyaknya kedutaan begitu ya, tapi juga aspek kebudayaan gitu lho, sebagai bagian dari internasionalisme Indonesia begitu ya," kata Rizal, Sejarawan.

Kehadiran Sinematek di bawah arahan Misbach Yusa Biran menjadikan Jakarta unggul dalam dokumentasi film nasional dibandingkan negara Asia lainnya pada masa itu. Narasi ini dianggap menjadi daya tarik kuat bagi wisatawan yang ingin mendalami sejarah perkembangan industri kreatif di ibu kota.

"Jadi di sini ada Pusat Perfilman Usmar Ismail kan, jadi bahkan ada Sinematek begitu lho. Usmar Ismail kan tokoh sentral film Indonesia yang hari syuting filmnya jadi Hari Film Nasional kan. Lalu ada Sinematek, satu-satunya yang punya di kawasan Asia Timur, bahkan Jepang belum punya, kita udah punya Sinematek, pusat dokumentasi perfilman nasional itu. Itu yang bikin tokoh film terkenal, Misbach Yusa Biran," kata Rizal, Sejarawan.

Selain aspek kebudayaan, Ali Sadikin juga membangun infrastruktur pendukung bagi pelajar dan turis asing berupa penginapan bersubsidi. Hal ini mencerminkan keterbukaan Jakarta terhadap interaksi mancanegara sejak puluhan tahun silam, yang bangunannya kini telah beralih fungsi menjadi gedung diklat.

"Kemudian juga di belakang ada hostel yang dibikin Bang Ali. Hostel itu sebenarnya untuk hubungan internasional dalam bentuk turis gitu, turis-turis yang masih pelajar, mahasiswa, begitu tuh mereka bisa nginep dengan subsidi di belakang yang sekarang jadi gedung diklat," kata Rizal, Sejarawan.

Identitas lokal juga masih tersisa di balik kemegahan gedung modern, di mana permukiman warga Kuningan dulunya merupakan pusat peternakan sapi pemasok susu bagi warga Belanda di Batavia. Rizal menyebut wilayah ini pada era Hindia Belanda merupakan kawasan luar kota yang masih dipenuhi lahan persawahan.

"Ini kan dulu kawasan persawahan yang dipakai orang Betawi untuk beternak sapi, karena kalau kita masuk ke dalam-dalam itu kita masih bisa ketemu bagaimana orang Betawi itu yang menjadi peternak sapi. Iya, kalau masuk ke dalam ini akan ketemu mungkin masih ada sisanya ya. Menurut saya yang paling menarik ya, dulu susu itu disuplai untuk seluruh kawasan Jakarta orang-orang Belanda, selain dari Petamburan ya dari sini," kata Rizal, Sejarawan.

Pesatnya pembangunan baru terjadi pada 1970-an ketika wilayah yang awalnya dianggap sepi ini mulai dilengkapi fasilitas publik seperti Gelanggang Remaja hingga Pasar Festival. Area ini kemudian tumbuh menjadi pusat aktivitas anak muda, terutama saat popularitas kawasan Blok M mulai menurun pada akhir 1990-an.

"ini kan bukan hanya di sini ya kawasan belum terjamah, kayak di Slipi itu kan baru pada 1960-an terjamah. Jadi banyak di kawasan Jakarta yang sebenarnya kawasan yang baru dibangun. Ini kan baru dibangun tahun 70-an. Ini tanah yang bahkan waktu dibangun Sinematek, itu si Misbach Yusa Biran cerita itu, itu kawasan yang sangat sepi. Tapi ramai itu karena yang undang Bang Ali, jadi waktu pembukaan gedung ini ramai karena dia tuh mengisahkan bahwa ini kayak tempat jin buang anak begitu di tahun 70-an," ujar Rizal, Sejarawan.

Optimalisasi potensi sejarah di Kuningan diharapkan tidak hanya mempertahankan identitas kota, tetapi juga menciptakan pusat aktivitas masyarakat yang tersebar untuk mengurangi kepadatan di titik-titik tertentu Jakarta. Kawasan ini kini tengah dipersiapkan sebagai ikon kota global baru melalui penataan trotoar dan fasilitas pedestrian sejak Sabtu (9/5/2026).

"Jadi dan mengurai kemacetan. Jadi orang di tiap daerah dia nggak perlu pergi ke Blok M dari Jakarta Utara atau dari Jakarta Timur gitu. Jadi mereka bisa punya pusat-pusat sendiri begitu. Dan itu kan yang dibayangkan Bang Ali waktu bikin GOR sebenarnya. Gelanggang Remaja itu, itu pusat aktivitas masyarakat gitu, menghabiskan waktu gitu di akhir pekan," kata Rizal, Sejarawan.

Artikel terkait

Rekomendasi