Produsen Mobil Listrik di China Naikkan Harga Akibat Biaya Produksi

Produsen Mobil Listrik di China Naikkan Harga Akibat Biaya Produksi

Sejumlah produsen kendaraan listrik atau new energy vehicle (NEV) di China mulai menaikkan harga jual produk mereka akibat lonjakan biaya produksi pada Mei 2026. Langkah ini mengakhiri tren perang harga agresif yang sebelumnya mendominasi pasar otomotif domestik.

Kenaikan harga tersebut dipicu oleh meroketnya nilai bahan baku baterai dan keterbatasan pasokan cip memori otomotif, seperti dilansir dari Otomotif yang mengutip Carnewschina. Lebih dari 15 pabrikan otomotif, termasuk BYD, Xiaomi, serta beberapa merek joint venture, telah merevisi banderol kendaraan maupun fitur tambahan mereka.

BYD mengumumkan kenaikan harga paket ADAS 'God’s Eye B' berbasis LiDAR untuk lini Dynasty, Ocean, dan Fangchengbao mulai 1 Mei 2026 dari 9.900 yuan menjadi 12.000 yuan. GAC Aion juga menaikkan harga model Aion Y Younger dan Aion S Plus antara 3.000 yuan hingga 6.000 yuan.

Penyesuaian harga turut melanda seri ID milik Volkswagen sebesar 7.000 yuan dan Toyota bZ4X sekitar 6.000 yuan. Di samping itu, seluruh varian mobil listrik Xiaomi SU7, mulai dari tipe Standard, Pro, hingga Max, mengalami koreksi harga sebesar 4.000 yuan.

Di sektor hulu, harga lithium carbonate untuk baterai melonjak drastis dari 75.000 yuan per ton pada Juli 2025 menjadi mendekati 200.000 yuan per ton. Di sisi lain, harga cip penyimpanan otomotif naik 180 persen dan memori DDR5 kelas atas melonjak lebih dari 300 persen dalam tiga bulan terakhir karena kapasitas produksi semikonduktor terserap oleh industri AI generatif.

Menurut estimasi UBS, kenaikan harga cip tersebut menambah beban produksi kendaraan pintar berkisar antara 3.000 yuan hingga 7.000 yuan per unit. Peningkatan harga aluminium dan tembaga juga menambah biaya bahan baku mobil listrik ukuran menengah sekitar 1.800 yuan.

Tekanan biaya ini berdampak langsung pada penurunan profitabilitas industri otomotif China. Data China Passenger Car Association (CPCA) menunjukkan margin laba industri otomotif domestik merosot menjadi 3,2 persen pada kuartal pertama 2026, setelah sempat menyentuh level terendah dalam 10 tahun terakhir sebesar 2,9 persen pada Januari-Februari 2026.

Kondisi ini memicu perubahan peta persaingan pasar dari yang semula mengandalkan strategi pemangkasan harga beralih ke penyesuaian tarif akibat beban produksi. Terkait fenomena tersebut, analisis mengenai kemampuan bertahan masing-masing produsen disampaikan oleh pihak asosiasi.

"produsen NEV premium masih memiliki ruang untuk menyerap kenaikan biaya. Namun, merek di segmen menengah ke bawah mulai kesulitan menjaga profitabilitas." kata Sekretaris Jenderal CPCA Cui Dongshu.

Artikel terkait

Rekomendasi