Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) Jayan Sentanuhady memperingatkan pemilik kendaraan mengenai konsekuensi mencampur berbagai jenis bahan bakar diesel yang dilansir dari Otomotif pada Senin (4/5/2026). Praktik penggabungan solar subsidi dengan jenis Dex sering dilakukan masyarakat demi menekan biaya operasional.
Kualitas bahan bakar hasil pencampuran tersebut dipastikan tidak akan mencapai standar maksimal yang dibutuhkan oleh mesin modern. Penurunan karakteristik bahan bakar ini berdampak langsung pada efisiensi pembakaran serta responsivitas mesin saat digunakan di jalan raya.
“Secara umum aman. Tetapi sebaiknya tidak dilakukan,” ujar Jayan, Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM).
Jayan menjelaskan bahwa produk akhir dari penggabungan dua jenis BBM yang berbeda spesifikasi hanya akan menghasilkan kualitas di tingkat menengah. Penurunan mutu ini menghambat mesin untuk bekerja sesuai dengan potensi terbaiknya.
“Kalau dicampur, kualitasnya berada di antara dua jenis tersebut,” kata Jayan, Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM).
Penggunaan bahan bakar yang tidak konsisten secara terus-menerus dapat memicu penumpukan masalah pada sistem injektor dan ruang bakar. Jayan menegaskan pentingnya pemahaman pemilik kendaraan terhadap penurunan performa yang akan terjadi akibat kebijakan tersebut.
“Artinya, performanya juga tidak akan sebaik jika menggunakan bahan bakar yang sesuai spesifikasi secara penuh,” ucap Jayan, Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM).
Jenis bahan bakar Dex memiliki angka cetane tinggi dan kadar sulfur rendah untuk pembakaran bersih, namun keunggulan ini luruh saat dicampur solar subsidi. Kondisi ini berpotensi meningkatkan emisi gas buang dan mempercepat jadwal perawatan komponen vital mesin dalam jangka panjang.