Nilai tukar rupiah yang merosot hingga menyentuh level Rp17.658 per dolar AS pada Senin, 18 Mei 2026, menekan sektor industri otomotif nasional akibat pembengkakan biaya impor komponen. Lonjakan mata uang asing ini menjadi level terlemah rupiah sejak krisis moneter tahun 1997-1998, sebagaimana dilansir dari Suara.
Kondisi ekonomi makro tersebut memicu kenaikan biaya impor pangan strategis dan bahan baku industri yang mendorong inflasi di berbagai daerah. Meskipun rata-rata produk kendaraan saat ini memiliki Tingkat Kandungan Lokal (TKDN) yang tinggi, pabrikan otomotif di Indonesia dinilai masih sangat bergantung pada pasokan teknologi serta komponen luar negeri.
Sejumlah produsen otomotif kini tengah berupaya keras menahan harga jual unit kendaraan agar tidak langsung melonjak tajam di pasar domestik. Direktur Marketing PT Toyota Astra Motor (TAM), Bansar Maduma, membenarkan bahwa fluktuasi nilai tukar mata uang asing ini memberikan dampak yang signifikan bagi ekosistem industri.
"Kita akan semaksimal mungkin, untuk bisa mengurangi impact yang terjadi di customer. Sehingga customer juga lebih trust kepada merek Toyota, dan tidak akan meninggalkan mereka," kata Bansar Maduma, Direktur Marketing PT Toyota Astra Motor (TAM).
Pihak Toyota kini sedang berkoordinasi secara intensif dengan jaringan penyuplai hingga prinsipal global demi merumuskan strategi penyesuaian biaya produksi. Langkah serupa juga diambil oleh produsen asal Korea Selatan, seperti Kia dan Hyundai, yang mulai mengantisipasi dampak jangka panjang dari dinamika kurs ini.
Head of Marketing Kia Sales Indonesia, Rendy Pratama, menjelaskan bahwa struktur pembiayaan otomotif tidak langsung berubah secara instan karena terbantu oleh strategi hedging atau lindung nilai. Di sisi lain, faktor eksternal seperti harga bahan bakar minyak juga menjadi indikator penting dalam menentukan harga jual kendaraan baru ke depan.
"Tergantung dari naiknya harga bensin tersebut atau harga bahan bakar tersebut. Nah kalau bahan bakarnya naik cukup signifikan, kemudian nilai tukar mata uang juga naik. Kita akan kombinasikan itu semua menjadi yang namanya harga mobil," ujar Fransiscus Soerjopranoto, Chief Operating Officer HMID.
Manajemen Hyundai menyatakan penyesuaian harga jual unit kendaraan di masa mendatang akan sangat bergantung pada akumulasi faktor nilai tukar dan regulasi harga bahan bakar. Jika pelemahan rupiah terus bertahan dalam jangka waktu lama, para produsen diprediksi akan melakukan penyesuaian harga secara bertahap dan selektif berdasarkan persentase komponen impor tiap model.