Al-Balad Jeddah Simpan Jejak Sejarah Perjuangan Haji Masa Lampau

Al-Balad Jeddah Simpan Jejak Sejarah Perjuangan Haji Masa Lampau

Distrik Al-Balad yang terletak di sudut kota Jeddah, Arab Saudi, menyimpan memori mendalam mengenai perjuangan jemaah haji pada masa lampau. Dilansir dari Cahaya, kawasan ini merupakan titik awal bagi para tamu Allah dari seluruh dunia saat transportasi masih bertumpu pada jalur laut.

Bangunan-bangunan kuno dengan pintu kokoh dan jendela rawasheen memberikan kesan waktu seolah berhenti di wilayah berjuluk 'Gerbang Makkah' ini. Melansir situs resmi UNESCO, Jeddah telah menjadi pelabuhan utama perdagangan Samudra Hindia sekaligus pintu masuk jemaah haji sejak abad ke-7 Masehi.

Perpaduan peran tersebut menjadikan Al-Balad berkembang sebagai pusat multikultural dengan arsitektur rumah menara yang unik dari akhir abad ke-19. Struktur bangunan di sana menggabungkan tradisi karang pesisir Laut Merah dengan pengaruh seni dari berbagai jalur perdagangan dunia.

Anis Diyah Puspita, alumnus Universitas Al-Azhar Mesir sekaligus petugas haji PPIH Arab Saudi 2026, menjelaskan peran vital Al-Balad dalam sejarah perhajian global. Menurutnya, hingga saat ini masih terdapat kawasan 'Hajj Route' atau rute haji yang autentik di kota tua tersebut.

Sebelum menjadi bagian dari administratif Jeddah modern, Al-Balad dahulu termasuk dalam wilayah Hijaz. Kawasan ini telah melayani jemaah dari berbagai penjuru dunia, termasuk Nusantara, Mesir, dan India, sejak ratusan tahun lalu.

"Sekitar abad ke-19 sudah dipakai jemaah haji dari seluruh dunia, termasuk dari Nusantara. Juga dari berbagai negara seperti Mesir dan India," ungkap Anis di Jeddah, Arab Saudi, Jumat (15/5/2026).

Kawasan ini juga tumbuh menjadi pusat peradaban Islam tempat bertukarnya gagasan mengenai ilmu fiqih dan perkembangan agama. Sejumlah tokoh besar Indonesia tercatat pernah melewati jalur bersejarah ini dalam perjalanan spiritual mereka.

"Termasuk tokoh ternama Indonesia seperti KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Ashari, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi," kata Anis.

Al-Balad menjadi saksi betapa beratnya usaha umat Muslim terdahulu untuk mencapai Tanah Suci. Anis menyebutkan bahwa jemaah dari Indonesia pada masa itu bisa menghabiskan waktu hingga satu tahun untuk perjalanan pulang dan pergi.

"Kalau saat ini orang bisa sembilan jam sampai di Makkah, berbeda dengan dahulu banyak jemaah yang meninggal di perjalanan karena kondisi transportasi yang terbatas," katanya.

Keterbatasan moda transportasi membuat jemaah yang baru tiba di pelabuhan harus melanjutkan perjalanan ke Makkah menggunakan unta. Bagi mereka yang tidak memiliki biaya cukup, perjalanan dilakukan dengan berjalan kaki menembus gurun.

Kondisi yang penuh risiko ini melahirkan tradisi 'pamitan haji' yang kuat di Indonesia hingga sekarang. Perjalanan yang sangat berat membuat keluarga melepas jemaah dengan kesadaran bahwa mereka mungkin tidak akan kembali ke rumah.

Pengakuan Internasional dan Monumen Bersejarah

Saat ini, distrik Al-Balad telah mendapat pengakuan sebagai situs Warisan Dunia UNESCO. Kawasan ini memiliki lebih dari 600 bangunan bersejarah yang dikonstruksi menggunakan material batu karang laut yang sangat khas.

Penelusuran di lokasi mengungkap adanya Hajj Route yang sudah digunakan sejak era Khalifah Utsman bin Affan pada abad ke-7 Masehi. Keputusan beliau memindahkan pelabuhan utama ke Jeddah mengukuhkan kota ini sebagai titik persinggahan utama jutaan umat Muslim.

Salah satu monumen paling ikonik di lorong kuno ini adalah Bayt Nassif. Bangunan ini didirikan atas perintah Syekh Umar Affandi bin 'Abdullah bin Abu Bakr Basha bin Mohammed Nassif antara tahun 1872 hingga 1881 Masehi.

Bayt Nassif memiliki nilai sejarah tinggi karena pernah menjadi kediaman pertama Raja Abdulaziz bin Abdulrahman Al Saud saat memasuki Jeddah pada tahun 1925. Bangunan tersebut sempat berfungsi sebagai pusat pemerintahan pada awal kepemimpinan sang Raja.

Selain itu, terdapat Bayt Noorwali yang merepresentasikan puncak estetika arsitektur Al-Balad dari abad ke-19. Struktur setinggi enam lantai ini merupakan bangunan tertinggi di Jeddah pada masanya, dibangun dengan batu kapur dan langit-langit kayu tradisional.

Keunikan Bayt Noorwali terletak pada Roshan, fasad kayu megah dengan ukiran geometris dan motif bunga yang rumit. Detail arsitektur ini menjadi bukti keahlian tinggi para perajin lokal dalam menciptakan inovasi bangunan yang tetap kokoh hingga saat ini.

Artikel terkait

Rekomendasi