Stasiun Jakarta Kota adalah nama yang tak asing bagi banyak orang. Bangunannya menakjubkan, dengan ciri khas fasad melengkung nan megah, tidak hanya berfungsi sebagai pusat aktivitas yang ramai bagi para komuter sehari-hari, tetapi juga berdiri sebagai saksi bisu dari sejarah perkeretaapian Indonesia yang panjang. Menyelami kesibukan stasiun ini akan mengungkap makna yang lebih dalam saat kita menjelajahi kisah-kisah yang terjalin dalam arsitektur bersejarahnya.
Didampingi oleh Gilang Ramadhan, seorang pemandu dari Tur Pemandu Gratis oleh UPK Kota Tua, perjalanan melalui rute berjudul "Oud Batavia en Omstreken: Then & Now" dimulai untuk menjelajahi kekayaan sejarah era Hindia Belanda. Di depan stasiun megah ini, dikelilingi oleh kerumunan yang ramai, deretan sepeda, dan pedagang kopi keliling, pesona bangunan bergaya Art Deco ini tetap abadi. Sambil memperlihatkan peta yang dihiasi gambar-gambar hitam-putih vintage stasiun tersebut, Gilang memulai ceritanya.
"Stasiun Jakarta Kota ini awalnya dibangun tentu bukan sebagai Stasiun Jakarta Kota, tapi nama stasiunnya adalah Bataviasche Oosterspoorweg atau Stasiun Batavia bagian sisi sebelah timurnya" kata Gilang, Pemandu Tur UPK Kota Tua.
Nama tersebut semakin dikenal luas melalui akronimnya, BOS (Bataviasche Oosterspoorweg Maatschappij). Oleh warga biasa, tempat ini kerap disebut Beos. Jika dilihat dari atas, arsitektur stasiun ini menampilkan ciri khas yang membedakannya dari yang lain. Bangunan ini dirancang berbentuk huruf T besar, dengan pintu masuk utama terletak di bagian depan. Di dalam area stasiun, terlihat total 12 peron yang membentang ke arah luar.
"Dulunya semua aktif, terutama menghubungkan ke Stasiun Tanjung Priok yang gunanya dulu untuk mengambil kargo-kargo atau muatan-muatan untuk keperluan ekspor dan impor" kata Gilang, Pemandu Tur UPK Kota Tua.
Perkembangan Stasiun Jakarta Kota sangat erat kaitannya dengan sejarah panjang perkeretaapian di Indonesia, sebuah kisah yang mulai terungkap pada tahun 1820-an. Seiring berjalannya waktu, perusahaan kereta api milik negara Belanda, Staatsspoorwegen (SS), bersama dengan entitas swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), mengalami nasionalisasi, yang membuka jalan bagi pendirian PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Penggabungan ini, bersama dengan sejarahnya yang panjang, telah menghasilkan koleksi bangunan bersejarah yang luar biasa yang diwariskan kepada PT KAI. Stasiun Jakarta Kota, yang terletak di Jakarta Barat, menonjol sebagai salah satu dari banyak stasiun yang diakui sebagai Situs Warisan Budaya yang terus berfungsi secara aktif hingga saat ini. Lalu, muncul pertanyaan mengenai keberadaan stasiun Cagar Budaya lainnya di wilayah Jakarta.
"Di Jakarta Pusat, Stasiun Gambir dulunya adalah Stasiun Batavia Koningsplein. Tapi yang berstatus Cagar Budaya di Jakarta Pusat adalah Stasiun Pasar Senen" kata Gilang, Pemandu Tur UPK Kota Tua.
Selain itu, Stasiun Jatinegara di Jakarta Timur dan Stasiun Tanjung Priok di Jakarta Utara juga termasuk dalam daftar stasiun yang memiliki nilai sejarah ini. Meskipun memiliki nilai sejarah yang tinggi, Stasiun Manggarai tidak memiliki status sebagai cagar Budaya. Bangunan stasiun era kolonial tidak hanya terdapat di Jakarta, melainkan juga tersebar di berbagai lokasi di seluruh pulau Jawa.
"PT KAI ini kemungkinan salah satu perusahaan Indonesia yang punya aset Cagar Budaya terbanyak" ujar Gilang, Pemandu Tur UPK Kota Tua.
Bentang Sejarah di Luar Ibu Kota
Gilang kemudian menyebutkan beberapa contoh dari kawasan perkotaan terkemuka lainnya di Jawa yang memiliki stasiun bersejarah serupa. Di antaranya adalah Stasiun Tawang dan Stasiun Poncol di Semarang, Jawa Tengah; Stasiun Jebres dan Stasiun Balapan di Surakarta; serta Stasiun Kota Bogor di Jawa Barat. Masing-masing lokasi ini menyandang gelar bergengsi sebagai cagar budaya, namun tetap berkembang pesat dan melayani jutaan penumpang modern setiap tahunnya.
Salah satu ikon paling terkenal, bangunan Lawang Sewu di Semarang, ternyata juga memiliki kaitan erat dengan dunia perkeretaapian karena dulunya berfungsi sebagai markas besar Staatsspoorwegen. Saat ini, pengelolaan bangunan bersejarah ini berada di bawah pengawasan KAI melalui unit pelestarian cagar budayanya (Heritage), bukan di bawah yurisdiksi pemerintah provinsi atau kota setempat.