Museum Wayang Simpan Jejak Gereja Kolonial dan Nisan Jenderal VOC

Museum Wayang Simpan Jejak Gereja Kolonial dan Nisan Jenderal VOC

Museum Wayang di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, menyimpan transformasi sejarah panjang dari bangunan gereja kolonial hingga menjadi museum pada Selasa (7/4/2026). Gedung ikonik ini dahulu merupakan lokasi pemakaman penting bagi pejabat tinggi Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Pemandu wisata dari Free Guided Tour UPK Kota Tua mengungkap lapisan sejarah tersebut dalam kegiatan bertajuk "Oud Batavia en Omstreken: Then & Now". Berdasarkan informasi yang dilansir dari Detik Travel, bangunan ini memiliki fungsi yang berbeda drastis dibanding perannya saat ini sebagai institusi budaya.

"Ceritanya itu cukup panjang dan completely different dengan institusi atau gedung yang kita lihat sekarang," ujar Gilang Ramadhan, pemandu (guide) tur tersebut.

Situs ini awalnya merupakan lokasi De Oude Hollandsche Kerk atau Gereja Belanda Kuno yang didirikan oleh pemerintah kolonial pada tahun 1640. Setelah mengalami kerusakan, bangunan tersebut direnovasi menjadi De Nieuwe Hollandsche Kerk pada abad ke-18 sebelum akhirnya dihancurkan pada tahun 1808.

"Kebutuhan gereja di sana sudah dianggap tidak relevan lagi. Akhirnya gedungnya dihancurkan karena mereka membangun gereja-gereja lain di Weltevreden," kata Gilang.

Keputusan penghancuran tersebut diambil menyusul perpindahan pusat administrasi Hindia Belanda dari Batavia ke kawasan Weltevreden di Jakarta Pusat. Lahan bekas gereja kemudian dibeli oleh perusahaan Geo Wehry & Co. untuk dijadikan gudang yang strukturnya masih dapat disaksikan hingga kini.

Perkumpulan cendekiawan Bataviaasch Genootschap kemudian mengakuisisi gudang tersebut pada era 1930-an untuk dialihfungsikan sebagai museum sejarah.

"Komunitas ini membeli gedungnya untuk dibuat Museum Batavia Lama yang menceritakan Batavia1600-an dan 1700-an. Museumnya resmi dibuka pada 1939," kata Gilang.

Identitas bangunan sebagai Museum Batavia Lama bertahan hingga tahun 1974 sebelum akhirnya diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin sebagai Museum Wayang pada 1975. Meskipun telah berganti fungsi, koleksi nisan asli para Gubernur Jenderal VOC masih dipertahankan di taman dalam ruangan museum.

Salah satu peninggalan yang paling menonjol adalah nisan Jan Pieterszoon (J.P.) Coen, pendiri Batavia. Selain itu, terdapat pula nisan tokoh penting lain seperti Abraham Patras dan Gustaaf Willem Baron van Imhoff yang masih terjaga dalam kondisi baik.

"Kenapa nisannya masih utuh? Karena ketika gereja mengalami renovasi dan berganti institusi, nisan-nisan ini diselamatkan. Sebagian besar dipindah ke Museum Taman Prasasti, tapi selebihnya masih ada di sini," kata Gilang.

Keberadaan nisan tersebut kini menjadi daya tarik wisata sejarah di jantung Kota Tua. Meskipun nisan-nisan tersebut tetap berada di lokasi aslinya, jenazah di bawahnya dilaporkan telah membusuk secara alami atau telah dikembalikan kepada pihak keluarga ahli waris.

Artikel terkait

Rekomendasi