Mengenal Pangeran Arya Kemuning Adipati Pertama Kabupaten Kuningan

Mengenal Pangeran Arya Kemuning Adipati Pertama Kabupaten Kuningan

Kabupaten Kuningan menyimpan jejak sejarah mendalam melalui keberadaan Situs Makam Pangeran Arya Kemuning yang berlokasi di Astana Gede, Blok Cipicung, Kecamatan Kuningan. Sosok ini merupakan adipati pertama yang memimpin wilayah tersebut dan diketahui memiliki darah keturunan China.

Dilansir dari Detik Travel, akses menuju lokasi pemakaman ini mengharuskan para peziarah menyusuri gang sempit di tengah permukiman padat penduduk. Setelah melewati deretan rumah warga, pengunjung akan menemui kompleks pemakaman umum yang ditandai dengan gapura candi bentar berbahan bata merah kokoh.

Di dalam kompleks tersebut terdapat sebuah bangunan utama dengan pintu besi berwarna emas yang menjadi pintu masuk menuju makam sang Adipati. Ruangan ini menaungi empat makam keramat yang disusun menggunakan bata merah dengan batu nisan yang dibalut kain putih.

Keempat makam tersebut merupakan tempat peristirahatan terakhir Pangeran Arya Kemuning bersama istrinya, Nyi Mas Manawati. Selain itu, terdapat pula makam Syekh Maulana Arifin yang merupakan putra Syekh Maulana Akbar, serta makam kerabat dekat sang Adipati bernama Pangeran Putih.

Berdasarkan informasi sejarah digital yang tersedia melalui kode QR di lokasi, Pangeran Arya Kemuning diidentifikasi sebagai pemimpin pertama Kuningan pada abad ke-15 Masehi. Beliau merupakan putra Sunan Gunung Jati dari istrinya, Putri Ong Tien, yang berasal dari China.

Nama 'Kemuning' diberikan karena rona kulit beliau yang kekuningan sejak kecil, mengikuti ciri fisik ibundanya. Juru Kunci Makam, Indra Hermanto, menyebutkan bahwa pada masa itu Kuningan berada di bawah otoritas Kerajaan Cirebon.

Sunan Gunung Jati melantik Pangeran Arya Kemuning sebagai Adipati Kuningan pada tanggal 1 September 1498 Masehi. Momen pelantikan tersebut kemudian diabadikan sebagai hari jadi Kabupaten Kuningan yang dirayakan setiap tahunnya.

Usai dilantik, sang Adipati dikisahkan menunggangi kuda putih bernama Si Windu menuju Luragung dengan kawalan panglima perang Ewangga. Kuda Si Windu menjadi simbol kekuatan, ketangguhan, dan kegesitan yang merepresentasikan karakter kepemimpinan Pangeran Arya Kemuning.

Strategi Kepemimpinan dan Revolusi Pertanian

Indra menjelaskan bahwa penempatan Pangeran Arya Kemuning sebagai pemimpin bertujuan untuk menghindari konflik internal dan menyebarkan agama Islam melalui pendekatan kekeluargaan.

"Sunan Gunung Jati itu menginginkan dengan kekeluargaan, Jadi menyebarkan agama Islam itu dengan kekeluargaan, pernikahan, kemudian didudukkan posisi anak-anaknya di mana, di mana wilayahnya itu. Nah, kebetulan anak yang dari Ong Tien untuk menghindari konflik dititipkan untuk menjadi pemimpin di Kuningan," tutur Indra.

Tugas utama sang Adipati adalah menjaga kedaulatan wilayah Kerajaan Cirebon dari ancaman serangan Kerajaan Galuh atau Kawali di perbatasan. Namun, kontribusi beliau tidak hanya terbatas pada bidang pertahanan, melainkan juga pada sektor ketahanan pangan masyarakat setempat.

Pangeran Arya Kemuning menginisiasi transformasi pertanian dengan memperkenalkan sistem sawah basah yang diadopsi dari konsep di Demak dan Mataram. Sebelumnya, masyarakat Kuningan hanya mengandalkan sistem huma atau sawah kering yang produktivitasnya terbatas.

Selain itu, beliau memperkenalkan ubi jalar atau boled sebagai sumber pangan baru bagi warga. Bibit tanaman ini ditemukan saat beliau berkunjung ke area Lembah Cilengkrang di kaki Gunung Ciremai, yang kemudian dibudidayakan secara luas hingga saat ini.

Warisan Budaya dan Tradisi Tilawatan

Pangeran Arya Kemuning menghembuskan napas terakhir pada tahun 1529 Masehi dan dimakamkan di Astana Gede. Dahulu, terdapat tradisi tahunan bernama 'Tilawatan' yang dilakukan oleh masyarakat dan para tokoh setempat untuk menghormati jasa beliau.

Dalam tradisi ini, warga berkumpul membersihkan makam, melakukan tahlilan, serta mendengarkan pembacaan sejarah kepemimpinan sang Adipati. Acara tersebut biasanya ditutup dengan kegiatan makan bersama untuk mempererat silaturahmi antarwarga.

"Kalau dulu itu waktu tahun 60-an sampai 70-an kata kakek saya suka ada tilawatan. Nah di situ orang diundang kayak Kuwu dan para ulama itu duduk bersama dengan masyarakat, tahlilan, kemudian membacakan sejarah. Sudah membacakan sejarah itu jadi tukeran makanan itu tuker-tuker gitu, tilawatan namanya. Tapi sekarang sudah nggak, mungkin takutnya dianggap klenik. Seringnya ada orang berziarah saja," pungkas Indra.

Artikel terkait

Rekomendasi