Stasiun kereta api di Jakarta menjadi pusat aktivitas penumpang yang tidak pernah sepi setiap harinya. Di balik keriuhan tersebut, beberapa stasiun di ibu kota memiliki nilai sejarah yang sangat mendalam.
Dilansir dari Detik Travel, Stasiun Jakarta Kota merupakan salah satu stasiun paling ikonik di Indonesia. Terletak di kawasan Kota Tua, bangunan bersejarah ini masih aktif melayani perjalanan penumpang hingga saat ini.
Stasiun yang juga dikenal dengan nama Beos ini mulai beroperasi secara resmi pada tahun 1929. Nama Beos merupakan singkatan dari Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij atau Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur.
Dalam catatan sejarah perkeretaapian Jakarta, Stasiun Jakarta Kota memiliki hubungan erat dengan Stasiun Batavia Noord (Batavia Utara). Batavia Noord sebelumnya melayani rute penting Batavia-Buitenzorg sejak awal 1870-an.
Pemerintah kolonial kemudian membangun Stasiun Jakarta Kota pada awal abad ke-20 untuk menggantikan peran Batavia Noord. Langkah ini diambil guna menciptakan sistem transportasi yang lebih modern dan memiliki kapasitas lebih besar.
Setelah Stasiun Jakarta Kota resmi beroperasi sekitar tahun 1929, operasional Batavia Noord akhirnya dihentikan dan bangunannya dibongkar. Sejak saat itu, Stasiun Jakarta Kota mengambil alih layanan jalur utama menuju Bogor.
Jaringan kereta api pada masa Hindia Belanda di Batavia berfungsi menghubungkan pusat kota dengan wilayah penyangga. Daerah-daerah tersebut meliputi Meester Cornelis atau Jatinegara, Bekasi, hingga Buitenzorg atau Bogor.
Arsitektur Art Deco Karya Frans Johan Louwrens Ghijsels
Kemegahan Stasiun Jakarta Kota merupakan hasil rancangan arsitek Belanda, Frans Johan Louwrens Ghijsels. Ia menerapkan gaya arsitektur Art Deco yang menonjolkan bentuk simetris dan kesan modern pada masanya.
Bangunan ini dirancang dengan atap tinggi serta ruang tunggu luas untuk kenyamanan penumpang. Detail ornamennya menunjukkan perpaduan antara pengaruh budaya Eropa dan sentuhan lokal yang khas.
Stasiun Jakarta Kota telah menyandang status sebagai Stasiun Cagar Budaya. Penetapan ini berdasarkan SK Gubernur Nomor 475 Tahun 1993 tertanggal 29 Maret 1993, serta SK Menbudpar Nomor PM. 13/PW.007/MK/05 pada 25 April 2005.
Stasiun Manggarai, Duri, dan Tanjung Priok
Selain Jakarta Kota, Stasiun Manggarai juga menjadi bagian penting dari sejarah transportasi ibu kota. Beroperasi sejak abad ke-20, stasiun ini awalnya berfungsi sebagai simpul pertemuan berbagai jalur kereta di Batavia pada tahun 1910-an.
Seiring berjalannya waktu, Stasiun Manggarai mengalami berbagai tahap renovasi. Kini, fungsinya telah berkembang menjadi pusat utama layanan KRL Commuter Line bagi masyarakat Jabodetabek.
Selanjutnya terdapat Stasiun Duri yang dikembangkan pada akhir abad ke-19. Awalnya, stasiun ini menghubungkan Jakarta dengan wilayah barat seperti Tangerang serta kawasan pelabuhan di dalam kota.
Saat ini, Stasiun Duri berperan sebagai titik transit atau junction penting dalam sistem KRL. Stasiun tersebut menghubungkan rute ke arah Angke, Kampung Bandan, Jakarta Kota, hingga jalur menuju Tangerang.
Terakhir adalah Stasiun Tanjung Priok yang mulai beroperasi sekitar tahun 1920-an. Pembangunannya ditujukan untuk mendukung logistik dan perdagangan di pelabuhan Tanjung Priok yang menjadi pusat ekonomi di Batavia.
Bangunan Stasiun Tanjung Priok dikenal dengan gaya arsitektur kolonial yang megah. Hingga kini, stasiun ini masih melayani rute KRL menuju Jakarta Kota dan tetap dijaga kelestariannya sebagai bangunan cagar budaya.