Taman Safari Indonesia kini berdiri sebagai salah satu ikon wisata edukasi dan konservasi hewan paling populer di tanah air. Destinasi ini menawarkan pengalaman unik bagi pengunjung untuk melihat satwa di ruang terbuka yang dirancang menyerupai habitat aslinya.
Berbeda dengan kebun binatang konvensional yang membatasi gerak hewan dalam kandang, konsep di tempat ini memungkinkan satwa berkeliaran bebas. Wisatawan pun menjelajahi area tersebut menggunakan kendaraan pribadi atau bus yang disediakan pengelola.
Eksistensi institusi besar ini ternyata berakar dari sejarah panjang sebuah keluarga. Dilansir dari Kompas, Taman Safari Indonesia didirikan oleh Hadi Manansang bersama ketiga putranya, yakni Jansen Manansang, Tony Sumampau, dan Frans Manansang.
Transformasi bisnis keluarga ini bermula dari dunia hiburan sirkus jalanan. Narasi perjuangan mereka bahkan telah diabadikan dalam buku bertajuk "Tiga Macan Safari: Kisah Sirkus Ngamen Sebelum Permanen" yang mengungkap awal mula kerajaan bisnis tersebut.
Pada dekade 1950-an, Hadi Manansang memboyong anak-anaknya untuk mengamen dari satu tempat ke tempat lain. Mereka melakukan pertunjukan di alun-alun, lapangan terbuka, hingga lingkungan sekolah untuk menyambung hidup.
Atraksi yang mereka tampilkan cukup beragam, salah satunya adalah kemahiran memainkan trisula atau tombak bermata tiga. Selain mengandalkan tiket pertunjukan, keluarga ini juga menjual obat koyok buatan sendiri sebagai tambahan pemasukan.
Memasuki tahun 1963, Hadi Manansang mulai mengorganisir kelompok pertunjukan yang lebih profesional dengan nama Bintang Akrobat dan Gadis Plastik. Kelompok ini terus berkembang hingga pada 1967 dikenal sebagai Oriental Show.
Nama tersebut kemudian berganti kembali menjadi Oriental Circus Indonesia pada 1972. Segala aspek operasional, mulai dari melatih hewan, menjahit tenda, hingga urusan perizinan, dikelola secara mandiri oleh anggota keluarga Manansang.
Gagasan untuk mendirikan taman satwa yang lebih modern muncul dari kedekatan emosional Hadi Manansang terhadap hewan-hewan koleksinya. Pengalaman bertahun-tahun merawat satwa sirkus menjadi fondasi utama lahirnya konsep konservasi ini.
Sekitar tahun 1970, saat banyak pengelola kebun binatang kesulitan dalam hal pendanaan, keluarga Manansang mulai merintis kawasan alami. Mereka ingin menyediakan lingkungan yang lebih layak bagi perkembangan satwa di bawah naungan mereka.
"Berawal dari Oriental Circus Indonesia, kami memelihara satwa yang merupakan makhluk ciptaan Tuhan dengan kasih sayang. Melalui karunia dan berkatNya pula, satwa-satwa itu dapat berhasil berkembang biak dengan baik," tutur Jansen Manansang.
Keberhasilan dalam pembiakan satwa tersebut memicu pemikiran untuk melakukan pelestarian yang lebih luas. Langkah ini kemudian diwujudkan melalui pembentukan lembaga konservasi di wilayah Cisarua, Bogor, Jawa Barat.
"Hal inilah yang kemudian membuat kami berpikir untuk melestarikan mereka dalam satu kawasan alami yang pada akhirnya dikenal dengan Lembaga Konservasi Taman Safari Indonesia yang berada di Cisarua, Bogor, Jawa Barat," kata dia lagi.
Saat ini, perusahaan yang bermula dari grup sirkus tersebut telah beralih menjadi entitas konservasi dan pariwisata berskala nasional. Pengelolaannya tetap berada di bawah kendali keluarga Manansang dengan fokus pada edukasi serta pelestarian spesies langka.