Siswa SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta sukses merakit sebuah motor drag race listrik bernama Mugatech yang mampu melaju hingga kecepatan 134,5 kilometer per jam (km/jam). Inovasi kendaraan berperforma tinggi tanpa bahan bakar minyak (BBM) tersebut dikembangkan sebagai proyek praktik sekolah pada Kamis (28/5/2026), dilansir dari Otomotif.
Pembuatan motor drag listrik tersebut menghabiskan dana sekitar Rp 30 jutaan yang bersumber sepenuhnya dari pihak sekolah. Komponen kelistrikan seperti baterai khusus yang dirancang ramping, dinamo, dan kontroler menjadi bagian dengan biaya terbesar dalam proyek ini.
Proses pengerjaan kendaraan ini memakan waktu sekitar enam bulan dengan metode trial and error yang melibatkan siswa lintas angkatan. Pihak sekolah membagi siswa ke dalam beberapa divisi tugas, mulai dari pembuatan rangka, footstep, tangki, hingga bagian arm.
Ketua Jurusan Teknik Pemesinan SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta, Hindro Harimawan, menjelaskan bahwa ide awal proyek ini didasari oleh keinginan untuk menghadirkan inovasi transportasi tanpa bahan bakar fosil. Kecepatan motor ini juga dirancang agar minimal mampu menyamai performa motor berbahan bakar konvensional.
"Jadi motor listrik itu kan kita ingin punya inovasi. Jadi membuat alat transportasi atau yang sering digunakan masyarakat, tapi tanpa BBM. Soalnya stok BBM lama-lama juga nipis, terus harganya semakin naik. Nah, kita buat motor yang minimal bisa menyamai kecepatannya dengan motor berbahan bakar BBM," kata Hindro.
Gagasan tersebut langsung disambut dengan antusiasme tinggi oleh para siswa. Menurut Hindro, para siswa di jurusan tersebut memang memiliki ketertarikan kuat serta sering melakukan modifikasi dan custom sepeda motor.
"Jadi akhirnya saya lemparkan ide itu ke anak-anak. Ternyata respons mereka positif, apalagi mereka juga suka motor. Sering modifikasi motor, benerin motor, custom motor. Makanya anak-anak semangat dan tanggapannya positif. Jadi kita kerjakan," ujar Hindro.
Keputusan untuk merakit model drag race dipilih karena dinilai memberikan tantangan yang lebih besar. Langkah ini sengaja diambil agar berbeda dari pembuatan sepeda listrik atau motor listrik harian yang sudah umum diproduksi.
"Karena kalau motor buat sehari-hari itu sudah terlalu banyak. Bahkan sudah ada sepeda listrik. Kalau bikin seperti itu rasanya biasa saja, kurang heboh. Jadi biar motor yang kecepatannya tinggi," kata Hindro.
Pendanaan proyek ini segera dieksekusi setelah proposal yang diajukan oleh pihak jurusan disetujui oleh kepala sekolah. Kesempatan tersebut diambil lantaran pada tahun sebelumnya belum ada jurusan lain yang mengajukan anggaran inovasi.
"Iya, dari sekolah. Jadi setiap jurusan ditawari. Kebetulan setahun yang lalu belum ada jurusan yang mengajukan. Maka kami ajukan dan alhamdulillah disetujui Pak Kepala Sekolah, akhirnya mulai dieksekusi," ucap Hindro.
Dalam pelaksanaannya, tim perakit harus melewati berbagai tahapan revisi karena bentuk kendaraan tidak langsung sempurna pada percobaan pertama. Beberapa bagian seperti rangka bahkan harus dipotong dan dilas kembali demi menyesuaikan estetika.
"Ke mana ini modelnya trial and error. Jadi kita buat dulu rangkanya, kemudian dirakit sama motornya. Setelah jadi ternyata motornya terlalu panjang, kurang estetik. Akhirnya harus dipotong dan dilas lagi. Jadi tidak sekali jadi, sering riset," kata Hindro.
Tahapan perakitan Mugatech sendiri dimulai oleh generasi siswa yang lulus pada tahun lalu. Proyek yang belum selesai tersebut kemudian diteruskan dan diselesaikan oleh siswa angkatan berikutnya.
"Kalau dipadatkan pengerjaannya sekitar enam bulan. Yang mengerjakan awalnya siswa yang lulus tahun lalu. Mereka mulai bikin menjelang lulus, tapi motornya belum jadi. Akhirnya dilanjutkan angkatan berikutnya, terakhir kelas sebelas kemarin," kata Hindro.
Pihak sekolah membagi seluruh siswa ke dalam kelompok kerja yang spesifik untuk menyelesaikan setiap detail komponen motor. Langkah ini dilakukan agar semua siswa mendapatkan pengalaman langsung dalam proyek inovasi tersebut.
"Saya bagi tugas. Ada yang menyelesaikan rangka, membuat footstep, membuat tangki, membuat arm, dan sebagainya. Jadi memang dibagi seperti divisi-divisi," ujar Hindro.
Meski Mugatech sudah mencatatkan kecepatan yang tinggi, tim mekanik sekolah masih belum puas dan berencana meningkatkan target performa. Fokus pengembangan berikutnya akan diarahkan pada pengoptimalan rasio gear serta peningkatan kapasitas daya.
"Ini masih kita kembangkan, karena kami belum puas dengan hasil sekarang. Kemarin itu sebenarnya masih bisa dimaksimalkan. Ke depannya sebetulnya bisa mencapai 145 km/jam. Sekarang yang tercatat masih sekitar 134 km/jam," ucap Hindro.
Kendala utama dalam rencana peningkatan performa ini terletak pada tingginya biaya pengadaan baterai. Untuk menyiasati desain bodi drag yang ramping, baterai motor ini harus dirancang secara khusus dengan harga mencapai Rp 10 juta.
"Nah, ini mau kita kembangkan lagi dengan rasio gear yang lebih optimal. Kalau mau dibuat lebih kencang lagi juga bisa tambah baterai, cuma mahal di baterainya. Harga baterainya sekitar Rp 10 juta," kata Hindro.