Stok Sempat Langka, SPBU Shell Kembali Jual Solar Pasokan Pertamina

Stok Sempat Langka, SPBU Shell Kembali Jual Solar Pasokan Pertamina

Jaringan SPBU Shell Indonesia kembali menyediakan bahan bakar jenis diesel setelah sempat mengalami kekosongan stok sejak awal tahun 2026.

Dikutip dari Medcom, kepastian tersedianya kembali bahan bakar tersebut terjadi setelah pihak perusahaan memperoleh pasokan minyak dari Pertamina.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bertindak sebagai fasilitator dalam mempertemukan kedua belah pihak guna memulihkan distribusi bahan bakar di stasiun pengisian swasta.

Langkah normalisasi ini dikonfirmasi langsung oleh Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman.

“Itu adalah kerja sama dengan Pertamina yang kemarin sudah kami gagas, kami fasilitasi,” ujar Laode dikutip dari Antara.

Melalui pengumuman resmi pada 9 Mei 2026, Shell Indonesia menyatakan bahwa produk Shell V-Power Diesel sudah dapat dibeli kembali oleh masyarakat dengan harga Rp30.890 per liter.

Kembalinya aktivitas penjualan ini disambut baik oleh pemerintah sebagai bentuk pemulihan layanan pasokan energi di lapangan.

“Alhamdulillah sekarang sudah ada kerja sama dengan Pertamina untuk bisa mereka mulai lagi,” ujar Laode.

Selain membantu pihak Shell, pemerintah juga sedang mengarahkan SPBU swasta lainnya, termasuk bp Indonesia dan Vivo Energy Indonesia, untuk mengonsumsi solar domestik.

“Sebenarnya kan arah kami nanti seperti itu. Memang belum semuanya, tetapi sudah mulai,” kata Laode.

Kewajiban penggunaan solar produksi dalam negeri bagi seluruh pengelola SPBU swasta sejatinya telah dicanangkan oleh Kementerian ESDM sejak Februari 2026 dan mulai berlaku efektif April 2026.

Guna mendukung masa transisi tersebut, Pertamina ditugaskan mempersiapkan infrastruktur pelabuhan muat, penyesuaian volume kargo, hingga spesifikasi base fuel solar yang dibutuhkan setiap korporasi.

Upaya pemenuhan logistik ini dilakukan demi mencegah terjadinya krisis pasokan serta kelangkaan bahan bakar diesel di jaringan ritel swasta nasional.

Kebijakan integrasi pasokan ini juga ditopang oleh operasional proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) yang berada di Kilang Balikpapan, Kalimantan Timur.

Fasilitas pengolahan di Kilang Balikpapan tersebut diproyeksikan mampu mencapai kapasitas produksi hingga 360 ribu barel per hari, atau setara seperempat dari total kebutuhan energi nasional.

Pemerintah optimistis proyek RDMP Balikpapan ini dapat menekan angka impor bbm hingga Rp68 triliun per tahun serta menyumbang Produk Domestik Bruto senilai Rp514 triliun.

Artikel terkait

Rekomendasi