Taman Safari Bogor Kenalkan Bayi Panda Pertama yang Lahir di Indonesia

Taman Safari Bogor Kenalkan Bayi Panda Pertama yang Lahir di Indonesia

Kabar menggembirakan datang untuk para pencinta satwa di tanah air. Taman Safari Indonesia (TSI) yang berlokasi di Bogor, Jawa Barat, bersiap memperkenalkan anggota barunya kepada masyarakat luas.

Seekor bayi panda raksasa bernama Satrio Wiratama dijadwalkan dapat dikunjungi oleh publik mulai 30 Mei 2026 mendatang. Pengumuman ini menjadi kabar yang dinantikan banyak pihak.

Keberhasilan proses pembiakan satwa langka asal China tersebut menjadi pencapaian yang sangat signifikan. Peristiwa ini sekaligus menjadi tonggak sejarah penting bagi upaya konservasi satwa di Indonesia, seperti dikutip dari Detik Travel pada Jumat (15/5/2026).

Langkah pembiakan yang dilakukan oleh TSI ini mendapat apresiasi positif dari berbagai pihak. Vice President Life Science Taman Safari Indonesia, Dr. Bongot Huaso Mulia, menyampaikan bahwa respons dari pihak China sangat baik.

Pihak China mengakui komitmen serta dedikasi tinggi yang ditunjukkan TSI dalam melestarikan spesies endemik mereka. Nama Satrio sendiri disematkan pada Desember lalu saat Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, menyambut perwakilan parlemen China.

Dalam sesi pembaruan media, tim medis TSI memperlihatkan ketelitian tingkat tinggi dalam merawat anak panda tersebut. Pemantauan difokuskan secara penuh pada aspek pertumbuhan serta perkembangan fisiknya.

Para dokter hewan beserta penjaga satwa mengenakan pakaian medis steril berwarna hijau, lengkap dengan penutup kepala dan masker saat memeriksa Satrio. Pemeriksaan intensif dilakukan di dalam inkubator kaca khusus.

Bayi panda yang akrab disapa Rio atau Liao tersebut kini mulai ditumbuhi bulu hitam-putih yang tebal. Di dalam ruang perawatan, ia tampak ditemani oleh beberapa koleksi mainan boneka panda.

Direktur Taman Safari Indonesia, Aswin Sumampau, menjelaskan bahwa panda memiliki daya pikat yang sangat besar di mata dunia. Ketika ada bayi panda lahir, masyarakat internasional dari berbagai negara seperti Jepang dan Korea kerap datang dalam jumlah besar.

Namun, Aswin menambahkan bahwa di balik kelucuannya, satwa ini memiliki karakteristik yang cukup ceroboh. Sifat unik inilah yang menjadi tantangan tersendiri bagi tim pengelola.

"Dan salah satu kelucuan panda itu adalah teledor gitu ya. Jadi kalau tidur kepalanya kadang di bawah, kadang jatuh sendiri, kadang ngguling," ungkap Aswin kepada awak media di Taman Safari Indonesia Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Karakteristik tersebut menjadi fokus utama bagi tim dokter hewan yang dikomandoi oleh Drh. Bongot Huaso Mulia. Mereka harus bekerja keras guna memastikan keamanan area eksibit atau kandang peraga.

Berbeda dengan panda dewasa yang tetap aman meski terjatuh dari ketinggian 1 hingga 1,5 meter, proses belajar anak panda berlangsung sangat bertahap. Pengelola harus menyesuaikan fasilitas dengan kemampuan motorik satwa.

"Kita coba dulu yang (ketinggian) 80 sentimeter, 90 sentimeter supaya dia tahu kalau jatuh itu rasanya apa, gimana, terus mereka belajar," jelas Aswin.

Dr. Bongot memaparkan bahwa salah satu kendala terbesar dalam penangkaran panda adalah sifat mereka yang sangat individualis. Satwa ini cenderung menghindari interaksi kelompok, sehingga pencarian pasangan menjadi urusan yang rumit bahkan di alam liar.

"Apalagi lembaga konservasi seperti kita yang hanya diberi sepasang gitu. Jadi cowoknya nggak bisa milih cewek gitu kan ya. Jadi kalau memang nggak suka ya nggak suka gitu," terang Bongot.

Guna mengatasi hambatan reproduksi tersebut, pihak TSI menjalankan riset mendalam terkait metode inseminasi buatan. Program ini melibatkan kolaborasi lintas negara antara para pakar dari Indonesia, China, hingga Eropa.

Bagi masyarakat yang ingin melihat langsung tingkah lucu Satrio Wiratama, pihak TSI telah menyusun jadwal kunjungan secara berkala. Pembatasan durasi kunjungan ini mutlak diterapkan demi keselamatan sang bayi panda.

Faktor risiko seperti potensi terjatuh, memakan material berbahaya seperti akar rumput atau tanah, serta kerentanan terhadap paparan virus dan bakteri menjadi pertimbangan utama tim medis.

"Nanti untuk publik sendiri kita mendorong untuk di akhir bulan nanti di tanggal 30 untuk sudah bisa dilihat berkala oleh publik. Walaupun mungkin tidak bisa sepanjang hari ataupun ada di luar dan sebagainya, karena sekali lagi itu membutuhkan waktu untuk training," ujar Bongot.

Pada tahap awal orientasi tanggal 30 Mei 2026, panda yang memiliki nama lain Li Ao ini diprediksi hanya akan tampil di depan publik selama 2 hingga 3 jam per hari. Manajemen TSI menargetkan Satrio siap menyambut pengunjung secara penuh pada momen liburan di bulan Juni dan Juli.

Artikel terkait

Rekomendasi