Suara dentuman cambuk yang saling beradu terdengar riuh di kawasan Pasar Wit-Witan, Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi. Di tengah lingkaran arena, dua pria yang bertelanjang dada tampak saling berhadapan sambil menggenggam pecut dari lidi aren.
Kesenian tradisional yang dikenal sebagai tiban ini kembali digelar melalui perhelatan bertajuk Tiban Sodo Purwo. Acara tersebut berlangsung di kawasan Pasar Wit-Witan hingga Minggu (17/5/2026) mendatang, seperti dilansir dari Detik Travel.
Atraksi ini bukan sekadar ajang adu ketangkasan fisik antarpeserta. Bagi masyarakat di wilayah selatan Banyuwangi, tiban merupakan warisan leluhur yang memiliki makna mendalam sebagai ritual pemanggil hujan dan simbol solidaritas antarwarga.
Meskipun terlihat ekstrem dengan guratan merah yang tertinggal di punggung pemain, suasana di arena justru penuh dengan keakraban. Para pemain biasanya akan langsung berjabat tangan dan berpelukan setelah pertandingan berakhir sebagai tanda persaudaraan.
Pecut yang digunakan dalam pertunjukan ini terbuat dari pilinan lidi pohon aren yang kuat. Penonton yang memadati arena sering kali bersorak saat cambukan mendarat, namun semangat sportivitas tetap menjadi nilai utama yang dijaga dalam setiap sesi pertandingan.
Koordinator kegiatan, Suharsoyo menjelaskan bahwa gelaran Tiban Sodo Purwo dihadirkan untuk memastikan budaya lokal tetap eksis. Upaya pelestarian ini sangat penting agar kesenian tradisional tidak tergerus oleh derasnya arus modernisasi saat ini.
"Kegiatan ini kami gelar dalam rangka melestarikan kesenian tradisional nenek moyang kita agar tetap eksis dan dikenal luas," ujar Suharsoyo, Jumat (15/5/2026).
Suharsoyo menekankan bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keberlangsungan tradisi ini. Ia berharap anak muda tetap memegang teguh identitas budaya sendiri meski hidup di era digital yang serba modern.
"Harapan ke depan, semoga generasi muda jangan sampai lupa. Kesenian ini harus tetap dilestarikan. Meskipun di era modern seperti sekarang, kita harus tetap memegang teguh budaya sendiri," ucap Suharsoyo.
Atmosfer Pesta Rakyat di Desa Karetan
Penyelenggaraan Tiban Sodo Purwo berhasil menciptakan suasana yang menyerupai pesta rakyat. Pengunjung yang datang tidak hanya berasal dari wilayah Purwoharjo, tetapi juga dari berbagai daerah lain yang ingin menyaksikan tradisi unik tersebut.
Anak-anak hingga orang dewasa tampak memenuhi area pasar yang kini berubah fungsi menjadi ruang pertemuan budaya. Aroma aneka jajanan tradisional dan keriuhan penonton memberikan warna tersendiri bagi kehidupan pedesaan di Banyuwangi.
Salah satu peserta muda, Moch Bagus Tirta Samudra (22), mengungkapkan antusiasmenya saat mencoba turun ke arena untuk pertama kalinya. Warga Curahjati ini menganggap kegiatan tersebut sebagai langkah konkret dalam menjaga warisan budaya.
"Saya baru pertama kali ikut kesenian tiban ini. Menurut saya sangat bagus diselenggarakan sebagai ajang nguri-uri budaya lokal agar tidak punah dimakan zaman," ujar Bagus.
Meskipun melibatkan kontak fisik, pihak panitia tetap memberlakukan aturan keselamatan yang ketat bagi seluruh peserta. Pemain dilarang mengarahkan cambukan ke area wajah atau alat vital untuk menghindari cedera yang fatal.
Selain itu, penggunaan pelindung kepala seperti helm menjadi kewajiban bagi setiap pemain yang masuk ke arena. Langkah ini diambil untuk meminimalkan risiko tanpa mengurangi nilai artistik dan tradisi dari pertunjukan tiban itu sendiri.
Kehadiran Tiban Sodo Purwo menunjukkan sisi lain dari pariwisata Banyuwangi yang tidak hanya menonjolkan keindahan alam. Tradisi ini membuktikan bagaimana denyut kebudayaan masih terus berdetak kuat di tengah masyarakat dari generasi ke generasi.