Aktivitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) memperlihatkan perputaran likuiditas yang kembali bergairah setelah sempat tertekan pada awal pekan. Aliran modal masuk mendominasi lantai bursa dan menempatkan barisan saham blue chip serta emiten lapis kedua sebagai pusat perhatian pasar.
Seperti diberitakan oleh Suara, terdapat sejumlah saham utama yang secara simultan merajai daftar teratas saham teraktif. Deretan saham yang menjadi fokus utama investor tersebut meliputi PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Barito Pacific Petrochemical Tbk (TPIA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Barito Renewables Energy Tbk (CUAN), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).
Dari sisi nilai perputaran dana, emiten perbankan swasta terbesar nasional, BBCA, sukses memuncaki urutan teratas dengan mencatatkan nilai transaksi fantastis mencapai Rp2.432,78 miliar. Harga saham BBCA terpantau merangkak naik 3,61 persen ke posisi Rp5.025 per saham.
Gerakan rebound tajam ini menjadi momentum pemulihan yang signifikan bagi BBCA. Pasalnya, pada perdagangan sebelumnya, saham bank swasta ini sempat terpuruk ke level Rp4.800 setelah dibuka di posisi Rp5.075, akibat aksi lepas portofolio massal oleh pemodal asing dengan nilai jual bersih mencapai Rp489,11 milar.
Tingginya aktivitas transaksi membuktikan bahwa daya tarik BBCA tetap memikat bagi investor institusi maupun ritel di kota-kota besar Indonesia untuk melakukan aksi akumulasi di harga rendah. Menempel ketat di posisi kedua saham bernilai transaksi terbesar adalah TPIA yang mengantongi nilai perdagangan Rp2.303,29 milar.
Saham terafiliasi konglomerasi Barito ini melesat tajam 10,59 persen ke level Rp1.775 per saham. Pergerakan ini sekaligus menempatkannya sebagai saham yang paling intensif diperdagangkan secara frekuensi, yakni berpindah tangan sebanyak 173.931 kali.
Sementara itu, dari sudut pandang kuantitas atau volume lembar saham yang diperjualbelikan, emiten batu bara BUMI menduduki peringkat pertama. Saham BUMI mencatatkan volume transaksi raksasa hingga 3,48 miliar lembar saham, dengan apresiasi harga sebesar 5,38 persen ke posisi Rp137 per saham.
Di luar pergerakan saham-saham berkapitalisasi pasar besar, panggung bursa dikejutkan oleh lonjakan signifikan dari kelompok saham berkapitalisasi kecil. Penguatan persentase tertinggi berhasil ditorehkan oleh saham PT Astra Daido Steel Indonesia Tbk (BABY) yang mengalami Auto Rejection Atas (ARA) setelah melonjak 34,62 persen ke level Rp140 per saham.
Mengikuti di posisi berikutnya dalam jajaran papan atas pencetak keuntungan, terdapat saham AHAP yang melesat 31,03 persen ke harga Rp76 dengan nilai transaksi Rp2,43 miIiar. Selain itu, ada saham CTTH yang menguat 29,17 persen ke posisi Rp124 dengan sokongan nilai transaksi yang cukup tebal mencapai Rp11,09 miliar.
Guna menjaga stabilitas pergerakan instrumen finansial dan melindungi kepentingan pemegang saham publik, otoritas bursa terus menerapkan fungsi pengawasan ketat. BEI membekukan sementara waktu aktivitas perdagangan satu emiten, yaitu PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP).
Tindakan penghentian sementara ini diberlakukan sebagai langkah murni penyegaran atas volatilitas harga saham yang bergerak di luar kebiasaan ritme pasar. Selain suspensi, bursa juga mengeluarkan status radar pemantauan khusus atau Unusual Market Activity (UMA) terhadap 20 emiten yang memperlihatkan pola transaksi tidak wajar.
Jajaran saham dalam pengawasan tersebut adalah BKSL, NINE, RSGK, KBLV, RMKE, LMAX, SOCI, CBUT, INET, FORU, GRIA, KOPI, HUMI, ROCK, IRSX, NICL, BABY, LOPI, MGNA, dan WGSH. Penyematan status UMA ini berfungsi sebagai indikator pengingat agar para pelaku pasar lebih cermat dalam mempelajari laporan keterbukaan informasi emiten sebelum mengeksekusi order transaksi.