Wajah Ibu Kota China, Beijing, mengalami perubahan drastis dalam satu dekade terakhir melalui upaya pembersihan udara yang masif. Dahulu, warga kota ini terbiasa menghadapi kabut asap pekat atau smog yang mengharuskan penggunaan masker tebal setiap kali keluar rumah.
Kondisi ekstrem tersebut tercatat dalam data yang dikutip dari Lestari, di mana indeks kualitas udara (AQI) di Beijing sempat menembus angka 250 pada awal 2016. Partikel halus PM2.5 bahkan mencapai 73 mikrogram per meter kubik, jauh melampaui ambang batas aman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Pencemaran udara yang parah saat itu dipicu oleh aktivitas industrialisasi besar-besaran dan ketergantungan tinggi pada pembakaran batu bara. Namun, pada April 2026, pemandangan langit merah dan udara menyesakkan tersebut mulai digantikan oleh langit biru yang jernih.
Keberhasilan Beijing dalam menekan polusi merupakan hasil dari kebijakan elektrifikasi yang dijalankan secara agresif oleh pemerintah. Konsentrasi PM2.5 berhasil diturunkan menjadi 27 mikrogram per meter kubik pada tahun 2025 melalui kontrol emisi yang ketat.
Salah satu pilar utama transformasi ini adalah penggantian kendaraan berbahan bakar fosil dengan kendaraan listrik (EV). Meski populasi penduduk mencapai 21 juta jiwa, kebisingan mesin diesel dan kepulan asap knalpot kini mulai menghilang dari jalanan protokol.
Chrisnadi, seorang mahasiswa Indonesia yang menetap di Beijing, merasakan langsung dampak positif dari perubahan moda transportasi publik tersebut. Ia menilai suasana kota menjadi jauh lebih tenang dan nyaman bagi pejalan kaki.
"Kalau ada truk lewat, tidak ada lagi getaran mesin diesel yang mengintimidasi atau kepulan asap hitam yang biasa kami sebut 'cumi-cumi darat'. Suasananya jauh lebih bersih," ujar Chrisnadi.
Senada dengan hal itu, Junhi yang merupakan mahasiswa asal Bekasi juga memberikan kesaksian serupa mengenai peningkatan kualitas hidup di Beijing. Menurutnya, kota tersebut kini sangat minim polusi dan nyaman untuk tempat tinggal maupun bekerja.
Deklarasi Perang Terhadap Polusi
Upaya sistematis ini berakar dari komitmen politik yang kuat sejak tahun 2014. Presiden China Xi Jinping kala itu menegaskan bahwa pengembangan kendaraan energi baru adalah jalur utama bagi China untuk menjadi kekuatan otomotif global.
Pada periode yang sama, Perdana Menteri Li Keqiang mendeklarasikan perang terhadap polusi dengan intensitas yang sama seperti memerangi kemiskinan. Visi ini kemudian diwujudkan melalui pembangunan ekosistem energi bersih dari hulu hingga hilir.
Pemerintah membangun infrastruktur pendukung secara besar-besaran, mulai dari turbin angin, panel surya, hingga jaringan transmisi tegangan tinggi. Sektor swasta pun merespons positif dengan memasang panel surya di pabrik-pabrik untuk mengurangi jejak karbon.
Persaingan di industri otomotif semakin tajam sejak Tesla diizinkan berproduksi di China pada 2019, yang memicu produsen lokal seperti BYD untuk berinovasi lebih cepat. Pada akhir 2023, China tercatat melampaui Jepang sebagai eksportir otomotif terbesar dunia dengan kontribusi signifikan dari kendaraan listrik.
Dukungan Insentif dan Kebijakan Fiskal
Kecepatan transisi energi di China didukung oleh intervensi kebijakan yang kuat, termasuk subsidi senilai 230 miliar dollar AS untuk pengembangan industri EV. Pemerintah juga mewajibkan seluruh armada transportasi publik menggunakan mesin bertenaga listrik.
Kota Shenzhen menjadi pelopor global dengan mengelektrifikasi 100 persen armada bus publiknya yang berjumlah 16.359 unit. Di sisi konsumen, pemerintah menerapkan sistem pembedaan pelat nomor untuk mendorong penggunaan mobil ramah lingkungan.
Jenny, seorang karyawan swasta di Beijing, menjelaskan bahwa kendaraan listrik mendapatkan pelat nomor hijau dengan kuota yang longgar atau gratis. Sebaliknya, pelat biru untuk kendaraan konvensional dibatasi dengan harga mahal dan sistem lelang yang ketat.
"Saya tidak tahu kapan, tetapi kendaraan dengan pelat hijau telah melampaui pelat biru. Sebagian besar tempat parkir pusat perbelanjaan menyediakan banyak stasiun pengisian daya. Ini sangat memudahkan karena orang tinggal bayar pakai ponsel," kata Jenny.
Dampak Kesehatan dan Ekonomi Hijau
Berdasarkan data Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), elektrifikasi industri dan transportasi berhasil memangkas rata-rata harian PM2.5 di Beijing secara drastis. Penurunan polusi ini diproyeksikan mampu mencegah jutaan kasus penyakit pernapasan pada tahun 2030.
Secara finansial, berkurangnya angka morbiditas masyarakat berpotensi menyelamatkan negara dari kerugian ekonomi sekitar Rp 46 triliun. Transisi ini juga menciptakan lapangan kerja baru di sektor teknologi hijau, seperti teknisi baterai dan pemeliharaan stasiun pengisian daya.
Transformasi China dari negara yang bergantung pada minyak (petrostate) menuju kekuatan berbasis listrik (electrostate) menjadi strategi pertahanan ekonomi sekaligus perlindungan lingkungan. Pola transisi yang dilakukan Beijing ini menjadi referensi penting bagi kota-kota besar lainnya di dunia dalam menghadapi tantangan polusi udara.