Wisatawan global diprediksi akan mengalihkan fokus perjalanan mereka pada pengalaman liburan yang lebih tenang, nyaman, dan bermakna sepanjang tahun 2026 mendatang. Tren ini muncul berdasarkan hasil survei terhadap lebih dari 14.000 responden di berbagai negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan Australia, sebagaimana dilansir dari Detik Travel pada Rabu (14/5/2026).
Laporan yang dirilis oleh perusahaan hospitality Hilton ini menunjukkan adanya pergeseran prioritas wisatawan yang kini lebih mengutamakan aspek pemulihan energi. Data riset mengungkapkan bahwa 56 persen responden bepergian untuk beristirahat, sementara 37 persen lainnya ingin menghabiskan waktu di alam terbuka demi menjaga kesehatan mental.
Presiden dan CEO Hilton, Chris Nassetta menjelaskan bahwa faktor kepercayaan terhadap merek menjadi pertimbangan utama bagi para pelancong dalam merencanakan perjalanan mereka. Konsistensi pelayanan dianggap sebagai fondasi penting untuk menciptakan pengalaman wisata yang memuaskan.
"Laporan tahun ini menunjukkan bahwa 74 persen wisatawan menghargai pemesanan dengan merek yang mereka kenal dan percayai," kata Nassetta, dilansir dari Euronews, Rabu (14/5/2026).
Kebutuhan akan privasi juga memicu popularitas fenomena hushpitality dan solo traveling, di mana 26 persen wisatawan berencana melakukan perjalanan sendiri. Menariknya, 48 persen wisatawan berniat menambah waktu sendirian di sela-sela agenda liburan bersama keluarga atau rombongan mereka.
Selain aspek personal, transformasi teknologi turut mendominasi operasional penginapan melalui penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk perencanaan perjalanan. Sebanyak 61 persen wisatawan merasa terbantu oleh AI, meski mayoritas tetap menghargai interaksi langsung dengan staf lokal untuk memvalidasi rekomendasi tersebut.
Pemanfaatan fitur digital di area hotel juga mencatatkan kenaikan signifikan, terutama pada penggunaan kunci digital dan pesan teks untuk berkomunikasi dengan pihak pengelola. Sekitar 73 persen wisatawan global menilai layanan check-in serta check-out secara mandiri melalui perangkat digital sangat memudahkan proses menginap.
Sektor perjalanan bisnis turut mengalami perubahan fungsi di mana 54 persen responden menganggap perjalanan kerja sebagai sarana untuk rehat dari rutinitas rumah. Data dari Lyft memperkuat temuan ini dengan menunjukkan bahwa wisatawan bisnis kini lebih aktif mengunjungi objek wisata dibandingkan kelompok wisatawan lainnya.